Komik Politik
Pemilih pemula merupakan pemilih yang pada saat pelaksanaan pemilu pada 9 April 2009 genap berusia 17 tahun atau pemilih yang baru menggunakan pertama kali hak pilihnya. Pemilih pemula harus diberi perhatian khusus mengingat jumlah mereka yang sangat besar dan belum memiliki pengalaman dalam mengikuti pemilu sehingga belum memahami hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara yang mengikuti pemilu. Itulah sebabnya mengapa komik “Putih Abu-Abu Pemilu: Komik Politik Untuk Pemilih Pemula” ini diterbitkan karena komik ini merupakan salah satu sebagai media pendidikan politik, mengingat potensi pemilih pemula sangat besar namun tidak digarap secara khusus. Sejauh ini berbagai informasi tentang politik khususnya pemilu dinilai kurang. Mengapa komik? Karena komik akan disukai oleh anak muda yang pola pikirnya tidak terbiasa dengan hal-hal yang rumit. Komik merupakan sarana yang ringan tetapi bias menggelitik dan substansinya bisa sampai ke pembaca. Ini karena ada visualisasi sehingga cenderung mudah dipahami. Ide pembuatan komik ini sudah muncul dua tahun yang lalu, terinspirasi dari maura yang jago menggambar. Komik ini menggambarkan sejumlah anak SMU yang dianggap sebagai pemilih paling muda. Secara sederhana, komik itu menjelaskan bagaimana proses yang ada dalam tahapan pemilu serta apa saja yang perlu diketahui tentang pemilu. Setelah beberapa bulan digarap komik setebal 40 halaman yang dicetak berwarna ini selesai dan baru sekarang ini diluncurkan. Peluncuran komik ini dibarengi dengan diskusi cara sosialisasi kepada pemilih pemula usia 17 – 21 tahun. Narasumber dalam diskusi peluncuran komik ini ada Jeirry Sumampow dari Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat, Sri Nuryanti dari Komisi Pemilihan Umum, dan Masya Asyurul dari SMU Al-Izhar Pondok Labu dengan moderator Binny Buchori yang juga caleg dari partai Golkar. Anggota KPU Sri Nuryanti mengatakan, sosialisasi pemilu yang dilakukan melalui media komik itu adalah suatu pendekatan yang efektif. Pemilih pemula sangat mungkin cenderung tertarik kepada komik daripada sosialisasi pemilu yang dilakukan selama ini. Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat Jeirry Sumampow mengatakan bahwa selama ini, sosialisasi pemilu yang dikhususnkan kepada pemilih pemula belum ada. seharusnya mereka diberikan sosialisasi yang mendorong mereka untuk kritis. Pemerhati pendidikan dari SMU Al-Izhar Jakarta Masya Asyurul, sosialisasi pemilu harus menyentuh keseharian pemilih pemula. Dengan demikian bisa mengikis ketidakpedulian pemilih pemula karena merasa tidak dilibatkan dalam pemilu, dengan sosialisasi yang sesuai diharapkan bisa meningkatkan pemahaman pemilih pemula tentang pemilu.
(Dari berbagai sumber)
|