Kursus di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas)
Nurul Arifin punya kesibukan baru. Selain berkecimpung dalam dunia politik, menjadi aktivis jender, HIV dan narkoba, Nurul Arifin kian banyak menunjukkan perubahan orientasi hidup. Sekarang dia tengah menjalani pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Angkatan ke-13. Nurul diutus partai Golkar untuk mengikuti kursus singkat (KSA) Lemhannas yang memakan waktu 4,5 bulan.
Nurul mengatakan, meski baru seminggu mengikuti pendidikan Lemhannas, dia sudah mendapatkan banyak ilmu yang selama ia tidak ketahui. “Padahal pada minggu pertama sekolah, materinya baru seputar brain storming saja. Tapi saya merasakan sudah mendapat banyak sekali ilmu,” ujarnya.
Selain itu, di antara para peserta pendidikan di Lemhannas ini Nurul tergolong perempuan satu-satunya yang paling muda. Sementara teman seangkatan dalam kursus ini adalah orang-orang yang kompeten di bidangnya masing-masing, misalnya saja KSAD Letjen TNI Djoko Santoso, Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Bagus Ekodanto, Irjen Pol Yusuf Manggabarani, Direktur “F” BAIS Brigjen TNI Nana Purnama serta Pangkoarmabar Laksda TNI Didik Herupurnomo. Juga banyak sekali professor dari berbagai kampus di Indonesia.
Nurul bersyukur bisa ikut kursus yang bermanfaat untuk menambah wawasan tentang kehidupan berbangsa dan bernegara itu. “ Saya sudah mendapatkan banyak pengetahuan selama mengikuti pendidikan di Lemhannas ini. Mulai dari berbagai ilmu tentang wawasan kebangsaan, sosial, politik, ekonomi, strategi dan lain sebagainya. Bahkan saya juga belajar hal-hal teknis lain seperti bagaimana saya bisa memformulasikan berbagai macam pandangan tentang suatu hal, tata cara berpakaian, hingga etika menginterupsi,” ujarnya.
Hal paling berat dalam menjalani kursus yang dirasakan oleh Nurul adalah jadwal yang ketat sehingga ia tidak bisa melakukan pekerjaannnya. ” Jadi ceritanya cuti dulu..” Jadwal yang ketat belum seberapa karena masih ditambah banyaknya tugas yang datang beruntun hingga pada puncaknya tugas membuat taskap (tugas karya akhir perseorangan) membuat Nurul sempat stress karena lebih berat dan lebih ketat dari tugas membuat skripsi sewaktu menyelesaikan pendidikan S1nya dulu. Meski demikian, Nurul menikmati hari-hari belajarnya di Lemhannas. ”Pendidikan saya di sini merupakan sebuah proses dalam salah satu fase kehidupan saya..”