NAGA BONAR dan 100 tahun Kebangkitan Bangsa
Film "Naga Bonar" yang naskahnya ditulis oleh Asrul Sani dan dibintangi oleh Deddy Mizwar, saya, Wawan Wanisar, dan Roldiah Matulessy pada dan diproduksi pada tahun 1987 kembali diputar di bioskop-bioskop Indonesia pada bulan Mei 2008. Film berdurasi 95 menit ini bercerita tentang tokoh Naga Bonar (Deddy Mizwar), seorang pencopet yang mendapatkan kesempatan menyebut dirinya seorang Jenderal pasukan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, pasukan pendudukan Jepang mundur pada tahun 1945 dan Belanda berusaha kembali menguasai daerah yang ditinggalkan tersebut. Pada awalnya Naga Bonar melakukan ini hanya sekedar untuk mendapatkan kemewahan hidup sebagai seorang Jenderal, akan tetapi pada akhirnya dia menjadi tentara yang sesungguhnya dan memimpin kemenangan Indonesia dalam peperangan. Untuk dapat diputar kembali, film penyabet penghargaan kategori terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 1987 ini harus melalui proses restorasi pita induk atau remastering terlebih dahulu karena kondisi master negatifnya yang telah parah.Diputarnya film ber-genre drama komedi ini sengaja dilakukan menjelang peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional agar bangsa Indonesia sejenak menoleh ke belakang tentang apa yang telah dicapai hingga saat ini.
Pemutaran ulang film ini membawa kesan tersendiri bagi saya. Pertama, bahwa saya merasa bahwa cuma film inilah yang pas untuk membuat kita merenung tentang perasaan kebangsaan kita. Apa yang bisa kita lakukan terhadap bangsa tercinta jika Naga Bonar sang pencopet saja bisa berbuat sesuatu untuk bangsanya. Bagaimana dengan kita? Kedua, saya bangga banyak anak muda yang mau menyaksikan film ini meski pada saat bersamaan banyak film percintaan dan film horor atau hantu. Ini berarti ada keingintahuan anak muda terhadap sejarah bangsanya. Ketiga, saya bisa melihat kembali Nurul Arifin 20 tahun lalu. Jadi saya bisa bernostalgia. Hehe... cantik kan?
|