Pancasila: Antara Harapan dan Kenyataan
Pada hari rabu yang lalu, tepatnya tanggal 23 Juli 2008 diselenggarakan seminar dan dialog nasional ”Pancasila Antara Harapan dan Kenyataan” bertempat di kampus Universitas Pancasila, Jakarta. Seminar yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, dan lahirnya Pancasila 1 Juni dan menyambut peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2008 ini dihadiri oleh beberapa pembicara seperti; Sri Sultan Hamengku Buwono X, Dr. Budi Matindas, Prof. Dr. Komarudin Hidayat, dan Nurul Arifin.
Dalam seminar dan dialog nasional yang dipandu oleh Alfito Deannova ini, Nurul Arifin berbicara tentang Postmodernism Kaum Muda dan Pancasila. Nurul Arifin memaknai Postmodernism sebagai totalitas sosial, budaya, ekonomi, politik dan sejarah yang menandai gejala-gejala sosial mutakhir sejak 1950-an seiring dengan munculnya struktur masyarakat baru yang disebut dalam berbagai perbincangan akademis sebagai “masyarakat pos-industrial”, atau “masyarakat konsumer”, “masyarakat media”, “masyarakat informasi”, “masyarakat elektronik”, dan lainnya.
Dampak Postmodernism bagi kaum muda, antara lain: Pemanfaatan waktu tidak produktif, terjadi pemujaan terhadap penampilan dan gaya hidup yang berlebihan (narsisme, hedonisme dan konsumerisme), proses westernisasi dan globalisasi yang menjadi bagian dari posmo mencabut keterikatan kaum muda dengan budaya lokalnya dan melemahkan rasa nasionalisme. Dampak ini sungguh memperihatinkan dan akan berakibat fatal jika tidak segera disadari dan diatasi.
Pancasila sebagai filsafat hidup bangsa maupun sebagai dasar negara/ideologi negara adalah sebuah kesadaran; artinya kita meyakini nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dengan penuh kesadaran. Ini juga berarti adanya kesadaran bahwa eksistensi kita sebagai bangsa dan negara yang sangat beragam ini adalah sebuah potensi, jika dikelola dengan baik dengan meng-implementasi-kan nilai-nilai Pancasila di berbagai bidang: kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, hukum, sejarah, ekonomi, industri dsb maka niscaya akan membuat kita menjadi sebuah bangsa dan negara yang besar.
Seminar dengan arahan ketua panitianya Dr. Sonny ini berlangsung sukses. Peserta dan undangan memenuhi seluruh ruangan yang disediakan dan diskusi berlangsung dengan seru. Hasil diskusi diharapkan akan memunculkan ide-ide terobosan non konvensional disertai rencana aksi jangka panjang yang menjadi agenda bersama Bangsa Indonesia untuk mendekatkan filosofi Pancasila dengan perilaku para pemimpin dan seluruh komponen masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Dan yang lebih penting agenda tersebut menjadi shared values dan shared meaning.