Tentang Nurul Award/Achievement Kontak Kami
Go!
PROFILE
NURUL & INFO
BERITA & CERITA
CURHAT
SITEMAP
 
 
Berita & Cerita Lainnya
Lomba Karya Tulis Ilmiah
Nuruf Arifin: “Infotainmen Sering ‘Pesta Pora’... ”
Seminar Kesehatan
Hasil Sidang Paripurna DPR RI kasus Century, Opsi C menang
The Jakarta Post, Tuesday, 10/27/2009
kompas kita - tokoh pilihan
komik bahaya Neoliberalisme
Syukuran
Pencoblosan
Kampanye
Bantuan Buku Ke Masjid
Foto Bersama
Posko Relawan
Pertemuan Kader
Sosialisasi Hasil Rapimnas Golkar
Nikahan Massal
Sunatan Massal
Bakti Sosial : Banjir di Karawang dan Bekasi
Komik Politik
UMROH lagi..
Pancasila: Antara Harapan dan Kenyataan
Seminar Lingkungan Hidup di Tarakan, 13 Juni 2008
Seminar Kanker Leher Rahim di Karawang, 9 Juni 2008
NAGA BONAR dan 100 tahun Kebangkitan Bangsa
Artis dan Kepala Daerah: Apa Pendapat Saya..
Mengunjungi Korban Banjir di Karawang
Dance4Life
Kursus di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas)
 
BERITA & CERITA

kompas kita - tokoh pilihan

Perdana Sasmita - Jati- Yogyakarta
Tentang Film Anda adalah artis yang cerdas serta politisi yang punya visi kuat. Dalam kedua kapasitas itu, Mbak Nurul termasuk langka. Bagaimana Mbak Nurul memandang banyak artis yang cuma modal tampang dan keseksian serta politisi yang cuma modal ketenaran?
Kesangsian terhadap para artis masuk politik sebenarnya tidak sepenuhnya adil walau punya dasar. Sebenarnya semua anggota parlemen baru harus belajar berpolitik dan berdemokrasi sekaligus. Seorang ilmuwan politik pun harus belajar dan berproses karena menjadi ilmuwan politik dan politisi adalah dua hal berbeda. Apa pun latar belakang profesi sebelumnya, mereka memang akan dan harus mengalami transformasi status dan peran. Di atas itu semua, seorang politisi haruslah memandang posisi barunya sebagai sebuah panggilan dan sebuah kehormatan. Tanpa idealisme dan keluhuran dalam memandang posisi baru itu, seorang politisi sangat mudah terpeleset menjadikan posisinya hanya sebuah pekerjaan belaka. Siapa bilang hanya artis yang perlu belajar?
Fadlly Murdani - Semarang
Apa yang membuat Anda berubah haluan dari artis layar perak yang terkenal dengan akting sensual menjadi aktivis cum politisi? Adakah suatu momen, insight, andil pendidikan yang ditempuh, atau hanya mengikuti adagium "Yang tetap hanyalah perubahan". Jadi, perubahan ini karena memang Anda merasa perlu berubah sesuai tahapan kehidupan yang Anda lalui.
Saya sering, boleh jadi teramat sering, menerima pertanyaan serupa. Ada satu hal yang menurut saya perlu diluruskan di sini. Saya sebenarnya tidak pernah bermain dalam film dengan kategori "panas". Kalau dalam beberapa film saya memakai bikini, semuanya selalu dalam konteks, itu pun dalam setting film komedi, di antaranya bersama Indro cs. Selain itu, saya juga bermain dalam film sarat dengan karakter kuat, seperti Surat untuk Bidadari (Garin Nugroho), Boneka dari India (Nyak Abbas Acup), Pacar Ketinggalan Kereta (Teguh Karya), Naga Bonar (MT Risyaf). Transformasi saya, sebutlah begitu, diawali ketika di awal 1990-an saya memberi perhatian pada masalah AIDS. Dari awalnya hanya merupakan kepedulian pribadi, berkembang menjadi seorang aktivis sosial yang terkait dengan AIDS, dan kemudian soal perempuan. Di tahun 2003 saya bergabung dengan Partai Golkar dengan membawa kepercayaan kalau perubahan itu akan membawa dampak yang lebih efektif jika dilembagakan dalam kebijakan. Partai politik dan parlemen adalah tempat terbaik untuk itu. Di sanalah saya meretaskan semua idealisme dan kepercayaan itu.
Tonnio Irnawan T - Jakarta Timur
Dasawarsa 80-an Anda banyak bermain dalam film panas. Melewati perjalanan waktu, Anda berubah. Tak lagi jadi artis "panas", melainkan mengabdi kepada masyarakat dengan menjadi aktivis perempuan yang memperjuangkan persamaan hak dan kesetaraan perempuan-laki. Anda juga sering protes atas eksploitasi tubuh perempuan. Saya apresiasi Anda. Pertanyaan saya pandangan Anda terhadap film Indonesia yang kini banyak menjual tubuh perempuan.
Dalam setiap zaman, perempuan selalu merupakan bagian penting dalam film di Indonesia, cukup sering dengan cara mengeksploitasi tubuh sebagai sex appeal dan keindahan. Selama pesona itu digarap untuk sebuah karya seni, dilakukan dengan nilai artistik, dan dalam batasan etika yang masuk akal, saya harus memberikan apresiasi yang kuat kepada mereka, para insan sinematografi. Kita harus dorong agar perfilman Indonesia menjadi semakin baik dengan memperkuat sinematografi sebagai sains dan seni sekaligus.
Aan P - Garut
Dunia akting/film dengan dunia politik itu ada persamaannya, yaitu harus pandai bersandiwara. Apakah Anda bakal "berakting" dalam berpolitik?
Ini mengingatkan saya pada Ervin Goffman, salah seorang sosiolog termasyhur. Ia memandang hidup layaknya sebuah dramaturgi yang di dalamnya melibatkan manajemen kesan. Ada panggung depan yang penuh sandiwara dan kepurapuraan. Ada panggung belakang yang lebih privat, lebih personal, lebih apa adanya, lebih jujur. Keduanya memang sering berjarak. He-he.... Anda ingatkan saya kalau saya menjadi terlalu palsu, terlalu seperti plastik, seperti barang tiruan. Saya pikir, dekat dengan rakyat yang diwakilinya akan membuat seorang anggota parlemen terjaga.
Yudi Prasetya - Jakarta Selatan
Tentang Visi Politik Saya bersimpati dan mengamati record pemikiran karier politik Anda sejak lama. Saya penasaran, apakah Anda nyaman berada di dalam partai politik yang kental dengan nuansa "darah biru" dan tampaknya hampir pasti sulit bagi orang seperti Anda—yang ber-"darah merah"—untuk mencapai posisi puncak/menentukan?
Itu juga masalah, namun juga tantangan. Seperti juga dunia, negeri ini akan berubah, tidak terkecuali partai-partai politik di negeri ini. Harus ada tradisi baru dalam berpolitik, nilai-nilai dan praktik-praktik baru dalam berdemokrasi. Gagasan dasarnya adalah membangun sebuah kehidupan bersama di mana semua warga negara diakui dan diperlakukan memiliki harkat dan martabat yang sama. Pada akhirnya, yang membedakan kita hanyalah apa yang kita perbuat untuk kemanusiaan dan negeri ini daripada perbedaan yang berakar pada asal muasal kita.
Eddy Rahardjo - Solo
Selamat... Anda telah berhasil menjadi anggota DPR dari pemilu legislatif yang lalu! Kalau boleh tahu, berapa biaya yang telah Anda habiskan untuk kampanye? Agar Anda bisa optimal sebagai wakil rakyat (bukan wakil partai), di komisi apa yang Anda inginkan?
Mas Eddy, yang tidak ternilai justru datang dari orang-orang yang memberikan dukungan dan kekuatan untuk berjuang melewati hari-hari yang panjang itu. Merekalah yang paling berarti. Walaupun cukup menguras tabungan, saya dan keluarga telah menyiapkan diri cukup lama untuk ini. Akhirnya, bukan uang yang paling penting, namun seluruh keyakinan bahwa ini memang layak untuk diperjuangkan.
Amin Safri - Jakarta Selatan
Dear Nurul, Sebagai calon legislatif; apa pendapat anda tentang "arah globalisasi dunia" yang saat ini sudah tidak bisa dibendung untuk kita tetap bisa berpihak kepada nasionalisme, sosial budaya, idealisme ala Indonesia?

Itu kegelisahan banyak orang, di negeri ini dan negeri lain. Globalisasi memang membawa pesan yang sangat kuat: berubah dan menjadi bagian yang lebih besar dari sebuah dunia yang baru. Tapi, kita juga tahu bahwa globalisasi memberi ruang yang sangat longgar bagi kita untuk mendefinisikan sendiri apa arti menjadi warga dari sebuah negara bangsa. Saya kira, pilihan-pilihannya ada di tangan kita sendiri. Saya ingin negeri ini menjadi lebih kuat karena kita memilih untuk menjadi bagian penting dari perubahan ini. Dan itu bisa kita lakukan melalui kerja sama dan kemitraan semesta yang menjadi spirit dunia di abad XXI ini.

Munandar - Jakarta Selatan 12710
Apakah sudah benar arah pembangunan nasional kita selama ini? Andai jawabannya sudah benar atau belum benar, indikatornya apa ya?

Pertanyaan besar bangsa ini selama sepuluh tahun terakhir ini. Saya akan jawab begini. Dalam definisinya yang paling luas, pembangunan di sebuah negeri sekurang-kurangnya mencakup empat wilayah yang berbeda, namun berkaitan: ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Dalam satu dekade terakhir ini kita memiliki capaian yang luar biasa dalam pembangunan politik. Saya kira, tidak ada sebuah negeri yang mengalami kemajuan pembangunan politik sepesat ini. Dalam lapangan ekonomi, kita lumayan, sekurang-kurangnya dalam artian berangsur-angsur kita dapat keluar dari lilitan masalah yang rumit. Yang saya kira kita punya masalah agak serius adalah dalam pembangunan sosial dan budaya. Dalam dua hal yang terakhir ini, hmm... ada banyak masalah yang pelik: mulai dari soal menghadirkan kembali rasa saling percaya, kerja sama, toleransi, hingga pluralisme dan multikulturalisme.

Diah Widyandhari - Bekasi
Tentang Kehidupan Pribadi Bagaimana tanggapan pribadi Mbak Nurul dengan pernikahan beda agama, lalu bagaimana pemerintah seharusnya menyikapi para pasangan yang ingin menikah, namun berbeda agama? Apakah para pasangan ini harus hijrah ke luar negeri dulu untuk melegalkan pernikahan mereka?
Saya yakin, ini bukan melulu soal agama dan kepercayaan. Ini soal mendasar dalam kehidupan berbangsa, dalam kehidupan berkonstitusi. Negara harus menjadi tempat terpenting untuk menyelesaikan perkara yang tidak dapat diselesaikan melalui kebajikan dan kepatutan yang bersumber di masyarakat atau pasar. Saya memiliki kepercayaan yang kuat bahwa negara seharusnya menjadi solusi untuk perkawinan beda agama, bukan malah membuatnya kian pelik atau bahkan menciptakan masalah baru.
Dini Saptari - Ciputat, Tangerang
Aku pernah baca tentang artikel mengenai Anda di sebuah surat kabar Ibu Kota. Dalam artikel itu, Mbak Nurul menyatakan akan terus mengajarkan tentang keberagaman pada keluarga Anda. Namun, di saat nanti Mbak Nurul sebagai figur masyarakat, anggota legislatif yang paling mumpuni menurut saya, di mana Anda akan menjadi ibu yang supersibuk, apakah keberagaman tersebut masih akan Mbak Nurul pertahankan?
Sesuatu yang mengalir dalam napas dan kepercayaan kita akan selalu tinggal bersama kita. Kami akan coba mengatur kembali bagaimana menemukan waktu bersama keluarga. Terima kasih Mbak Dini telah membuat saya memiliki daftar "apa yang harus dilakukan" lebih panjang.
Yanto R Sumantri - Tanjung Barat, Jakarta
Tentang Partai Nurul Arifin yang baik. Dalam dunia politik, saya kagum sekaligus heran mengingat Anda tetap "setia" kepada Golkar, padahal pada Pemilu Legislatif 2004 Anda ditempatkan di nomor "tidak jadi". Bisakah dan bersediakah Anda mengemukakan alasan mengapa sampai saat ini Anda masih tetap "setia" kepada Golkar, yang menurut pendapat saya dalam kondisi menukik dan belum ada tanda-tanda elitenya menyadari dan melakukan tindakan survival untuk menghadapi masa depan partai.

Idealisme, loyalitas, dan pengabdian adalah tiga nilai yang membuat saya tidak berpikir untuk pindah ke partai lain. Idealnya, dalam sistem presidensial, jumlah partai tidak terlalu banyak. Seperti Anda, sembilan partai yang menang Pemilu 2009 ini saja sudah lebih dari cukup.

Riza - Bekasi
Bagaimana Anda menjelaskan kemenangan Partai Demokrat?

Selalu ada cara panjang atau pendek untuk menjelaskan kemenangan seperti juga menjelaskan kekalahan. Yang mana pun, kemenangan atau kekalahan yang bermartabat selalu melibatkan niat yang kuat, kerja keras, kerelaan berkorban, di samping soal-soal yang berkaitan dengan strategi dan kepemimpinan. Oleh karena itu, dalam setiap pemilu, yang terpenting bukan siapa yang menang atau kalah, melainkan apakah pemilu itu menghasilkan komitmen kolektif yang baru. Untuk saya, memastikan DPR masa bakti 2009-2014 lebih baik jauh lebih penting dari semua makna yang terkait atau disindirkan dalam kemenangan atau kekalahan sebuah partai. Terima kasih buat semua penanya. Salam hangat saya.

 
Copyright © 2008 Nurul Arifin. All Rights Reserved. Developed by Proweb Indonesia