Tentang Nurul Award/Achievement Kontak Kami
Go!
PROFILE
NURUL & INFO
Nurul & Narkoba
Nurul & HIV/AIDS
Nurul & Gender
Nurul & Politik
BERITA & CERITA
CURHAT
SITEMAP
 
 
 
Artikel Nurul & Narkoba
Narkoba - Farmville di Facebook
Peredaran Narkoba di Bali Memprihatinkan
Remaja Semakin Rentan Tertular HIV/AIDS
NARKOBA JENIS BARU
KITA PERLU BELAJAR DARI BALTIMORE
APA YANG BISA KITA LAKUKAN?
PEREMPUAN LEBIH MUDAH MENJADI PECANDU
ISTILAH SEPUTAR NARKOBA
CIRI-CIRI PEMAKAI NARKOBA
SEBUAH RENUNGAN, MEMPERINGATI HARI ANTI MADAT SEDUNIA
 
NURUL & INFO > Nurul & Narkoba

APA YANG BISA KITA LAKUKAN?


Gerakan anti narkoba makin marak. Bahkan hukumpun kini tidak segan-segan menjatuhkan hukuman mati buat yang terbukti mengedarkan barang laknat tersebut. Ironisnya pada saat yang sama, jumlah pemakai narkoba dan korban yang meninggal karena over dosis atau AIDS juga terus meningkat.

Pada edisi lalu, kita telah membahas tanta-tanda yang bisa kita kenali jika ada orang sekitar kita kecanduan narkoba. Jika tanda-tanda tersebut ada pada teman, saudara maupun di lingkungan kita maka kita perlu waspada.
Apa Yang Bisa Kita Lakukan Jika Ada Orang Sekitar Kita Sudah Kena?

Kalau tanda-tanda tersebut makin jelas terjadi pada orang-orang terdekat kita, ambil tindakan dini sebelum terlambat. Sayangnya, banyak di antara kita yang masih merasa malu dan bersikap pasrah jika salah satu anggota keluarga kita terkena narkoba, padahal semua tingkat kecanduan masih bisa ditolong, tergantung pendekatan dan metode yang digunakan.

Pertama sekali perlu pendekatan yang tepat untuk menyadarkan si pecandu bahwa ia bermasalah.
Jika pendekatan yang dilakukan berhasil maka bisa jadi ada keterbukaan dan keinginan dari si pecandu untuk sembuh. Namun jika pendekatan yang dilakukan tidak tepat, pecandu bisanya menolak atau menghindar untuk membuka dirinya, dan tidak mau mengakui bahwa dirinya bermasalah. Kalau pecandu tidak mau mengakui dirinya bermasalah, maka pengobatan yang dilakukan akan kurang maksimal hasilnya. Apalagi jika ia ia merasa terpaksa dan tidak sungguh-sungguh. Terbukti banyak sekali pecandu yang telah keluar masuk panti rehabilitasi berkali-kali, namun tetap saja ia jadi pecandu. Tapi jika keinginannya untuk sembuh sangat besar, didukung pula oleh keluarga, tentu proses penyembuhannya akan lebih cepat.
Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu kita lakukan sebagai upaya pendekatan dan menolong teman atau anggota keluarga kita yang kena narkoba.

• Siap menerima kenyataan bahwa orang-orang kesayangan Anda seperti sahabat, saudara, atau pacar terjerumus narkoba. Tidak usah menyangkal bahwa kenyataan tersebut merupakan aib, dengan demikian kita akan lebih mudah menolong mereka.

• Cari tahu apakah dia mau sembuh atau tidak. Kadang-kadang ada pecandu yang masih tidak mengakui bahwa ia bermasalah dengan kecanduannya. Kalau menemukan yang seperti ini, sebaiknya dibiarkan saja untuk sementara, tapi tetap melakukan pendekatan agar keinginannya untuk sembuh bisa muncul. Pendekatannya bisa dilakukan berbagai cara, baik lewat teman-teman sebayanya, lewat teman dekat, pembimbing agama ataupun guru dan kalangan ahli dari rumahsakit atau LSM. Dengan pendekatan yang intensif dan perhatian, kita mengharapkan si pecandu akan tergugah untuk sembuh.

• Kalau teman kita ingin sembuh, ajak dia untuk konsultasi ke dokter, pembimbing agama atau psikiater, selain orang tuanya tentunya. Mungkin di awal orang tuanya belum bisa terima, tapi ini reaksi yang normal. Yakinkan orang tua ada kesembuhan yang tersedia.

• Kenali masalah mereka. Seorang pecandu seringkali mengingkari bahwa mereka sedang bermasalah dan selalu mencari alasan atau pembenaran mengapa mereka menggunakannya. Pada saat ini sebaiknya kita bersikap pro aktif untuk menunjukkan bahwa kita perhatian dan peduli pada masalahnya sehingga kita bisa mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapi si pecandu.

• Beri mereka waktu untuk mengumpulkan tekad untuk bisa berhenti, sambil terus diawasi dan dipantau.

• Beri motivasi untuk segera mencari portolongan. Jangan dilepas atau diasingkan begitu saja karena akan membuat mereka lebih mengisolasi diri. Kita harus setia menemani dan mendukung semua usahanya sewaktu menjalani pengobatan. Jaga kebersamaan ini dengan terus memperhatikan keadaannya.

• Untuk sementara waktu, jauhkan mereka dari teman-teman sepergaulan. Soalnya sekali kembali ke lingkungan tersebut, memudahkan dia tergoda dan mencoba barang itu kembali. Seorang pecandu perlu lingkungan yang baru dan bersih.

• Bila tingkat kecanduan sudah sangat parah, ajaklah dia mengikuti proram detoksifikasi di rumah sakit atau panti rehab. Beberapa pecandu perlu dirawat di panti rehab untuk membantu mereka lepas dari cengkraman narkoba.

• Jika bingung harus mulai dari mana, segera cari pertolongan dengan menghubungi Layanan Konseling Gratis Narkoba YCAB-Telkom Peduli Konseling Narkoba 24 jam, 0800-1-663784.
 


********

PEREMPUAN LEBIH MUDAH MENJADI PECANDU

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam makalah berjudul The Formative Years: Pathways to substance Abuse among Girls and Young Women Ages 8-22 tersebut, perempuan cenderung lebih mudah menjadi pecandu dan mengalami dampak yang lebih parah.

Penelitian lanjutan menunjukkan perempuan lebih cepat mengalami ketergantungan terhadap zat adiktif dibanding pria. Selain itu, pemakaian salah satu jenis zat saja bisa memperbesar kemungkinan seorang perempuan mengonsumsi zat-zat adiktif lainnya seperti alkohol, rokok, atau jenis narkotika lain. kemungkinan tersebut jauh lebih tinggi dibanding pada pria.

Joseph A. Califano Jr., presiden CASA, mengatakan bahwa banyak faktor yang menyebabkan besarnya kecenderungan tersebut. Secara psikologis, perempuan lebih mudah terserang depresi disbanding pria. Perempuan juga cenderung memiliki kebiasaan makan yang buruk, dan lebih rentan terhadap penyiksaan fisik dan seksual. “semua faktor tersebut bisa meningkatkan kecenderungan wanita menggunakan zat adiktif,” papar Califano.

Selain itu, ada juga perbedaan perempuan dan pria dalam situasi sosial saat pertama berkenalan dengan zat adiktif tersebut. Pria umumnya berkenalan dengan zat adiktif dalam setting ini bisa amat berpengaruh, karena dalam setting tertutup kesan atau sensasi yang dialaminya bisa berbekas lebih dalam. Dibanding responden pria, lebih banyak responden perempuan yang mengatakan betapa lebih mudahnya mendapatkan zat adiktif illegal.

Yang lebih memprihatinkan, selain lebih cepat mengalami ketergantungan, wanita juga cenderung merasakan efek yang lebih parah akibat ketergantungannya tersebut. Karena perempuan lebih mudah mengalami depresi dibanding pria, kecenderungan bunuh diri perempuan pecandu lebih tinggi dibanding pria, secara fisiologis, paru-paru wanita juga lebih mudah rusak jika ia merokok. Perempuan juga cenderung lebih mudah mengalami kerusakan otak jika kecanduan alkohol.

Secara sosial, dampak ketergantungan zat adiktif pada perempuan juga lebih mengerikan. Perempuan pecandu narkotika dan obat-obatan terlarang cenderung lebih mudah terlibat dalam aktivitas seksual yang beresiko tinggi (misalnya, dengan partner seks yang tidak ia kenal sama sekali tanpa menggunakan pelindung). Perempuan pecandu berusia muda juga berkemungkinan lebih besar menjadi korban penyiksaan seksual dan fisik.
Perlunya tindakan preventif dan penanganan yang berbeda terhadap pecandu pria dan pecandu perempuan. “program-program rehabilitasi pecandu zat adiktif yang ada saat ini cenderung memberikan perlakuan yang sama terhadap pecandu pria dan perempuan. (Sumber: Majalah Lisa No. 34/2004).

TAPII…kita masih boleh lega bahwa meski penelitiannya menunjukkan kecenderungan perempuan lebih mudah menjadi pecandu, namun demikian, menurut sumber data di RSKO Jakarta, 2004, maka pecandu berjenis kelamin perempuan dari tahun 2000 hingga 2004 tertinggi hanya mencapai 10,34 % di tahun 2003. Sementara pecandu laki-laki pada tahun yang sama mencapai 89,66 %.
Sebagaimana dijelaskan dalam “Gambaran Penyalahgunaan NAPZA di Institusi Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA tahun 2001-2003 (Summary) “ Depkes 2004, diperoleh data bahwa pecandu perempuan menurut data dari Institusi tahun 2002 ada 8,8 % sementara laki-lakinya 91,2 %. Pada tahun 2003 ada penurunan sehingga hanya 7,5 % dan laki-laki mengalami peningkatan hingga menjadi 92,5 %.
Sedangkan menurut data dari LSM dari laporan yang sama, pada tahun 2002 pecandu perempuan ada 9,4 %, sementara pecandu laki-laki ada 90,6 %. Pada tahun 2003, perempuan 7,7 %, laki-laki 92,3 %.

Meski dari data diatas terlihat bahwa pecandu laki-laki lebih besar dari perempuan, namun demikian kita tidak boleh lupa, ada fenomena gunung es, yang artinya, data yang sebenarnya seringkali tidak terlaporkan atau tidak terdata. Jadi, hati-hati, baik perempuan maupun laki-laki, tetap saja tidak boleh menjadi pecandu narkoba. Mari hidup tanpa narkoba. Narkoba ? NO !
 


*********
 
Copyright © 2008 Nurul Arifin. All Rights Reserved. Developed by Proweb