| |
|
 |
|
NURUL & INFO
> Nurul & Narkoba |
 |
 |
 |
CIRI-CIRI PEMAKAI NARKOBA
Terbayangkah jika satu diantara saudara kita atau teman dekat yang kita kenal dengan baik, ternyata seorang pemakai narkoba. Mungkin kita akan sangat kaget dan tidak percaya. “ Saya kenal dia koq, rasanya tidak mungkin dia jadi pemakai narkoba..” “ Anaknya baik banget, ga mungkin deh dia jadi pemakai. Lagipula kayaknya dia happy-happy aja, ga pernah ada masalah, jadi buat apa dia memakai narkoba ?” “ Rasanya tidak mungkin dia jadi pemakai. Ia sangat cerdas dan prestasinya juga banyak.” Ada beberapa tolakan lain yang enggan mengakui bahwa saudara atau teman dekat kita ternyata adalah seorang pemakai narkoba. Kenapa tidak mau diakui ? Bukankah di artikel lalu pernah disebutkan bahwa narkoba menyerang siapa saja, dimana saja dan bagaimanapun caranya.
Saya punya cerita seorang remaja SMU yang kuper karena jarang berteman karena ia lebih suka belajar dan membaca buku. Suatu ketika ada seorang temannya yang datang menawarkan sebuah obat yang bisa membuatnya tambah berkosentrasi. Ia tidak perlu memeras otak lebih banyak untuk mengingat segala macam rumus atau hapalan, cukup dengan mengkonsumsi obat tersebut saja. Pelajar SMU ini terbujuk, ia mau lebih berprestasi lagi, maka ia memutuskan untuk membeli dan memakai. Karena faktor sugesti, perasaan akibat kata-kata temannya bahwa obat ini berkhasiat meningkatkan kosentrasinya, maka remaja ini merasakan bahwa ia memang lebih bisa berkosentarsi. Akhirnya ia jadi sering menggunakannya, semakin lama semakin banyak, dan akhirnya ia mulai menunjukkan sifat-sifat khas pecandu. Jadi kalau kita mengingat remaja SMU ini katakanlah Rendra namanya, apakah kita percaya dia bisa menjadi pemakai narkoba ?
Atau sebuah cerita lagi, teman saya ini sehari-harinya kuliah di PT Swasta paling top di Jakarta. Wajahnya yang ganteng dengan kendaraan sedan terbaru membuatnya tidak kehabisan mendapat pengagum. Wawan, sebut saja begitu sangat bahagia dengan hidupnya. Bapaknya kebetulan pengusaha yang tidak kenal korupsi jadi ia tidak khawatir kalau sewaktu-waktu bapaknya menjadi incaran polisi. Mamanya adalah perempuan lembut yang senang berorganisasi juga hobby membahagiakan anak dan suami. Pendek kata Wawan adalah orang yang bisa dicemburui karena bernasib baik. Suatu ketika ia datang kesebuah pesta teman di daerah puncak. Ketika ia pulang, mobilnya tabrakan dan ia tewas. Hasil visum dokter menyebutkan bahwa dalam tubuhnya ada narkoba dalam dosis tinggi. Tak ada seorangpun mempercayainya. Tidak seorang pun menyangka bahwa Wawan akan menjadi korban narkoba juga. Ternyata pesta yang dihadirinya adalah pesta narkoba, dan kedatangannya kesana adalah untuk kesekian kalinya.
Wawan dan Rendra bukanlah orang yang punya masalah dengan kehidupan sosialnya. Wawan dan Rendra adalah orang-orang yang cukup puas dengan kehidupannya. Jadi bukan hanya orang yang bermasalah saja yang bisa kena narkoba, tapi orang-orang yang tidak punya masalah pun bisa menjadi pemakai narkoba. Karena sebagian besar pemakai narkoba saat ini sudah menganggap narkoba sebagai bagian gaya hidup. Jika tidak ikut, mereka takut dikatakan kuno atau ga fungky. Pendapat yang tidak benar ini semakin diperparah dengan perasaan sugesti akibat terbujuk omongan yang tidak ada dasarnya. Seperti kasus Rendra, ia sudah menganggap bahwa narkoba-lah yang membuatnya lebih berkosentrasi. Padahal kenyataan sebenarnya, karena kemauan dan otaknya yang cerdas lah yang memungkinkan dia mencapai kosentrasi tinggi.
Jadi, siapapun diantara kita, saudara atau teman bisa menjadi pemakai narkoba. Kenali gejala-gejala ini jika ada diantara saudara atau teman yang memilikinya. Sebab inilah gejala orang yang menjadi pemakai narkoba dan mulai menjadi pecandu.
1. Perubahan perangai atau perilaku sehari-hari. Seperti biasanya periang tiba-tiba menjadi pemurung, mudah tersinggung dan cepat marah tanpa alasan yang jelas. Tapi bisa juga yang terjadi sebaliknya. Jika ia semula pendiam, tiba-tiba berubah menjadi lebih periang dan mudah tertawa. 2. Sering menguap dan mengantuk, malas, melamun dan tidak mempedulikan kebersihan atau penampilan diri Tapi kadang-kadang bisa berubah menjadi rajin sekali, bahkan seperti tidak kenal lelah. 3. Menjadi tidak disiplin atau sering kabur baik dirumah atau disekolah 4.Nilai rapor atau prestasi yang lain menurun 5.Lebih sering menyendiri, bersembunyi di tempat-tempat gelap atau sepi agar tidak terlihat orang 6.Lingkungan pergaulannya berbeda dari biasanya, atau lebih senang bergaul dengan orang-orang tertentu saja yang mempunyai ciri-ciri seperti tanda-tanda diatas. 7.Mencuri apa saja milik orang tua atau saudara untuk alasan yang tidak jelas, karena ia membutuhkan uang tersebut untuk membeli narkoba. 8.Sering cemas, mudah stress atau gelisah, sukar tidur dan mudah curiga 9.Pelupa seperti orang bego atau pikun 10.Mata merah seperti mengantuk terus dan biasanya menyembunyikannya dengan memakai kaca mata hitam
SEBUAH RENUNGAN, MEMPERINGATI HARI ANTI MADAT SEDUNIA
Hari Kamis lalu, tanggal 26 Mei 2002 sejak pukul 11.00 jalan-jalan di ibukota Jakarta seperti biasanya dipadati oleh kendaraan seperti mobil, motor ataupun kendaraan barang. Namun pada hari itu ada yang berbeda, mereka menyalahkan lampu depannya sebagai tanda kepedulian mereka terhadap masalah narkoba di negeri ini.
Tidak hanya mobil sedan mewah yang barangkali pemiliknya memiliki pendidikan dan wawasan yang cukup bahwa bahaya narkoba sudah mengkhawatirkan. Tapi juga pengendara motor, sosok-sosok individu yang mewakili masyarakat kebanyakan. Lampu motornya yang menyala terang di tengah terik Jakarta membuat saya berpikir bahwa mereka pun merasakan dampak negatif narkoba yang ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita. Bukan itu saja, kendaraan semacam bis, metro mini, ataupun truk pengangkut barang juga memperlihatkan kepedulian mereka dengan nyala lampunya yang membangkitkan semangat. Ini fenomena bahwa narkoba bukanlah masalah segelintir orang saja, bukan masalah kelas atas ataupun kelas orang berduit lebih, tapi juga masalah orang miskin, orang yang tidak cukup punya uang untuk membeli narkoba yang mahal tapi bisa membeli yang murah. Dan ketika ia jadi pecandu, maka ia dengan sukarela menjadi pengedar untuk memenuhi kebutuhannya akan narkoba dan untuk membangun impiannya menjadi orang berduit dengan cara tak halal.
Kamis lalu itu, kita di Indonesia juga merayakan hari anti madat sedunia. Bukan seremonial yang hendak diperbincangkan, tetapi perayaan anti madat sedunia ini merupakan kilas balik terhadap apa yang sudah kita lakukan untuk memerangi narkoba. Karena narkoba seperti kanker yang tak kentara awalnya, ia menumpang hidup, ketika semakin besar dan banyak, ia mulai mematikan kehidupan itu sendiri. Saya yakin bahwa banyak orang juga tidak menyadari ketika pertama mengkonsumsi narkoba. Mereka merasa tidak ada bahaya yang berarti dari narkoba kecuali bahwa narkoba adalah alat pergaulan yang paling ‘fungky’ saat ini. Banyak orang tidak menyadarinya seperti ketika kanker mulai muncul di tubuh seseorang. Ketika kanker mulai berkembang biak, maka orang mulai candu pada narkoba. Mulai terhisap oleh mitos-mitos yang diciptakan dirinya sendiri atau teman-teman se’perjuangan’ tentang narkoba. Bahwa narkoba bisa meningkatkan kepercayaan diri, bahwa narkoba bisa membuat kita tampak ‘berkelas’ bahwa narkoba merupakan alat untuk bekerja dan berkarya yang paling efektif. Mitos tanpa dasar ini seperti halnya kanker yang mulai berkembang biak, perlahan tapi pasti tidak hendak melepaskan korbannya.
Akhirnya ia tiba pada langkah untuk mematikan kehidupan itu sendiri. Barang-barang tergadaikan, terjual dan hutang-hutang menumpuk untuk membeli narkoba, dan ketika tiba saatnya, hidupun mati karena over dosis atau positif HIV /AIDS karena jarumnya tertular. Seperti halnya kanker, ini adalah masa orang harus merelakan hidupnya saat kanker sudah menjajah sebagian besar tubuhnya. Apakah bisa terselamatkan ? Mungkin ya, jika sejak dini kita telah mengetahui ada kanker di tubuh kita dan kita berusaha untuk mengobatinya. Tapi banyak ahli juga mengatakan bahwa kunci dari melepaskan diri dari semua penyakit adalah kepercayaan pada diri sendiri, keinginan yang sangat kuat untuk sembuh. Kita mungkin masih ingat Nita Tilana ? Meskipun kanker akhirnya membawanya juga, akan tetapi semangat dan keinginannya untuk sembuh telah membuatnya sangat kuat. Pecandu narkoba juga seperti pasien yang kena kanker, harus ada semangat dan keinginan untuk sembuh yang sangat kuat. Karena tanpa itu, meskipun pengobatan dilakukan di tempat-tempat tertentu yang sangat mahal dan terkenal, tidak ada jaminan korban narkoba akan sembuh jika ia tidak memiliki keinginan untuk sembuh.
Perayaan anti madat sedunia ini sekali lagi mengingatkan kita bahwa narkoba bukanlah sesuatu yang patut dicoba-coba. Ia seperti one way ticket , tiket sekali jalan, dimana jika kita beruntung saja kita bisa kembali. Tidak ada jaminan bahwa kita bisa kembali. Kalaupun bisa, tentu keadaannya tidak sama seperti dahulu sebelum kenal narkoba. Saya kenal seseorang yang pintar dan kreatif, narkoba telah mengubahnya menjadi sosok yang memuakkan karena tiada henti merongrong orang tua dan mencuri, belum lagi sikapnya yang selalu kasar dan tidak sabaran. Sebuah sosok yang asing. Dengan segala upaya, tenaga, uang dan airmata, akhirnya dia bisa diselamatkan. Tapi kita merasa bahwa dia tidak secemerlang dahulu kala. Sayang sekali ia telah membuang masa emasnya dengan coba-coba mengenal narkoba. Keberuntunganlah yang telah menyelamatkan dia kembali, tetapi ia tetap saja tidak sama dengan dahulu.
Saya bayangkan seandainya madat tidak pernah mengancam kehidupan kita, maka hidup akan jauh lebih indah. Tidak ada kerugian-kerugian karena temperamen kasar dan penuh curiga para pecandu. Tidak ada kehilangan-kehilangan akibat pencurian yang setiap saatnya terus meningkat. Bahkan ketika ia tidak punya sesuatupun untuk dicuri lagi, ia bisa menjual tubuhnya. Laki-laki ataupun perempuan. Narkoba tidak bisa membuat pikiran kita berjalan logis, keterikatan yang kuat pada sesuatu yang rapuh dan kosong. Apa yang ditawarkan narkoba ? kecuali kenikmatan seperti mimpi siang hari yang akan segera menguap pergi begitu kita terjaga. Sementara tidur siang hari tidak lama, masih banyak jam-jam dimana kita harus membuka mata. Merasakan rasa sakit dan kehampaan karena narkoba tidak pernah bisa mengisi jiwa kita.
|
 |
|
 |
 |
|
 |