| |
|
 |
|
NURUL & INFO
> Nurul & Narkoba |
 |
 |
 |
KITA PERLU BELAJAR DARI BALTIMORE
Kemiskinan membuat banyak penduduk di salah satu kawasan miskin di Baltimore, AS, terlibat dalam perdagangan narkoba. di sudut-sudut jalan kawasan itu banyak orang yang duduk-duduk di luar menanti membeli. Sama seperti Indonesia, mereka juga menggunakan anak-anak sebagai joki sekaligus pemberi informasi bila ada patroli. Seperti di Indonesia, datangnya kokain berkualitas rendah sehingga harganya terjangkau membuat banyak remaja terlibat, baik dalam pemakaian maupun rantai penjualannya. Tidak mengherankan bila kriminalitas di Baltimore tergolong tinggi dibanding wilayah lain di AS. Masalah lain yang tidak kalah merepotkan adalah tingginya tingkat penularan HIV/AIDS, hepatitis B, hepatitis C. penggunaan narkoba lewat jarum suntik menjadi kontributor utama kasus AIDS baru. Tidak perlu cari kasus HIV/AIDS ke Afrika yang selama ini dikenal tinggi. Di Baltimore malah lebih parah, karena setiap delapan jam ada satu orang Baltimore yang terinfeksi HIV/AIDS.
Untuk mengatasi masalah narkoba dan HIV/AIDS pemerintah daerah Baltimore memang mengupayakan berbagai cara. Salah satunya lewat lembaga yang disebut National Council on Alcoholism and Drug Dependence (NCADD), yang mengupayakan tidak hanya harm reduction, tetapi juga melobi pemerintah untuk mengubah hukuman penjara menjadi program pengobatan, memfokuskan kampanye pada antidiskriminasi dan stigmanisasi, merehabilitasi hak suara narapidana yang terkait narkoba, serta menghapus catatan kriminalitas mereka yang sudah menjalani hukuman dan tidak megulanginya lagi. Harm-reduction diantaranya menyediakan jarum suntik steril bagi pengguna narkoba suntikan dengan dukungan penuh pemerintah dan diterapkan sekitar sepuluh tahun lalu misalnya, terbukti mampu menekan laju penularan AIDS. Kesadaran bahwa ketimpangan ekonomi dan ketidakmampuan mengakses pelayanan kesehatan juga berkontribusi terhadap peningkatan HIV/AIDS, membuat pemerintah setempat mengupayakan pula berbagai upaya perbaikan ekonomi dan membangun rehabilitasi maupun kesehatan masyarakat terutama di wilayah kantung kemiskinan.
Intinya pemerintah kota Baltimore tidak tanggung-tanggung menanggulangi HIV/AIDS lewat berbagai cara. Inilah yang perlu ditiru oleh pemerintah Indonesia. Intervensi yang bisa memicu perekonomian rakyat misalnya, perlu dilakukan di kawasan miskin yang rawan narkoba. demikian pula dengan harm-reduction yang sudah terbukti mampu menekan laju penularan HIV/AIDS lewat penggunaan bersama jarum suntik. Keragu-raguan dan keterlambatan memperkenalkan program ini, hanya akan berakhir dengan makin banyaknya remaja yang menjadi korban HIV/AIDS.
APA YANG BISA KITA LAKUKAN?
Gerakan anti narkoba makin marak. Bahkan hukumpun kini tidak segan-segan menjatuhkan hukuman mati buat yang terbukti mengedarkan barang laknat tersebut. Ironisnya pada saat yang sama, jumlah pemakai narkoba dan korban yang meninggal karena over dosis atau AIDS juga terus meningkat.
Pada edisi lalu, kita telah membahas tanta-tanda yang bisa kita kenali jika ada orang sekitar kita kecanduan narkoba. Jika tanda-tanda tersebut ada pada teman, saudara maupun di lingkungan kita maka kita perlu waspada. Apa Yang Bisa Kita Lakukan Jika Ada Orang Sekitar Kita Sudah Kena?
Kalau tanda-tanda tersebut makin jelas terjadi pada orang-orang terdekat kita, ambil tindakan dini sebelum terlambat. Sayangnya, banyak di antara kita yang masih merasa malu dan bersikap pasrah jika salah satu anggota keluarga kita terkena narkoba, padahal semua tingkat kecanduan masih bisa ditolong, tergantung pendekatan dan metode yang digunakan.
Pertama sekali perlu pendekatan yang tepat untuk menyadarkan si pecandu bahwa ia bermasalah. Jika pendekatan yang dilakukan berhasil maka bisa jadi ada keterbukaan dan keinginan dari si pecandu untuk sembuh. Namun jika pendekatan yang dilakukan tidak tepat, pecandu bisanya menolak atau menghindar untuk membuka dirinya, dan tidak mau mengakui bahwa dirinya bermasalah. Kalau pecandu tidak mau mengakui dirinya bermasalah, maka pengobatan yang dilakukan akan kurang maksimal hasilnya. Apalagi jika ia ia merasa terpaksa dan tidak sungguh-sungguh. Terbukti banyak sekali pecandu yang telah keluar masuk panti rehabilitasi berkali-kali, namun tetap saja ia jadi pecandu. Tapi jika keinginannya untuk sembuh sangat besar, didukung pula oleh keluarga, tentu proses penyembuhannya akan lebih cepat. Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu kita lakukan sebagai upaya pendekatan dan menolong teman atau anggota keluarga kita yang kena narkoba.
• Siap menerima kenyataan bahwa orang-orang kesayangan Anda seperti sahabat, saudara, atau pacar terjerumus narkoba. Tidak usah menyangkal bahwa kenyataan tersebut merupakan aib, dengan demikian kita akan lebih mudah menolong mereka.
• Cari tahu apakah dia mau sembuh atau tidak. Kadang-kadang ada pecandu yang masih tidak mengakui bahwa ia bermasalah dengan kecanduannya. Kalau menemukan yang seperti ini, sebaiknya dibiarkan saja untuk sementara, tapi tetap melakukan pendekatan agar keinginannya untuk sembuh bisa muncul. Pendekatannya bisa dilakukan berbagai cara, baik lewat teman-teman sebayanya, lewat teman dekat, pembimbing agama ataupun guru dan kalangan ahli dari rumahsakit atau LSM. Dengan pendekatan yang intensif dan perhatian, kita mengharapkan si pecandu akan tergugah untuk sembuh.
• Kalau teman kita ingin sembuh, ajak dia untuk konsultasi ke dokter, pembimbing agama atau psikiater, selain orang tuanya tentunya. Mungkin di awal orang tuanya belum bisa terima, tapi ini reaksi yang normal. Yakinkan orang tua ada kesembuhan yang tersedia.
• Kenali masalah mereka. Seorang pecandu seringkali mengingkari bahwa mereka sedang bermasalah dan selalu mencari alasan atau pembenaran mengapa mereka menggunakannya. Pada saat ini sebaiknya kita bersikap pro aktif untuk menunjukkan bahwa kita perhatian dan peduli pada masalahnya sehingga kita bisa mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapi si pecandu.
• Beri mereka waktu untuk mengumpulkan tekad untuk bisa berhenti, sambil terus diawasi dan dipantau.
• Beri motivasi untuk segera mencari portolongan. Jangan dilepas atau diasingkan begitu saja karena akan membuat mereka lebih mengisolasi diri. Kita harus setia menemani dan mendukung semua usahanya sewaktu menjalani pengobatan. Jaga kebersamaan ini dengan terus memperhatikan keadaannya.
• Untuk sementara waktu, jauhkan mereka dari teman-teman sepergaulan. Soalnya sekali kembali ke lingkungan tersebut, memudahkan dia tergoda dan mencoba barang itu kembali. Seorang pecandu perlu lingkungan yang baru dan bersih.
• Bila tingkat kecanduan sudah sangat parah, ajaklah dia mengikuti proram detoksifikasi di rumah sakit atau panti rehab. Beberapa pecandu perlu dirawat di panti rehab untuk membantu mereka lepas dari cengkraman narkoba.
• Jika bingung harus mulai dari mana, segera cari pertolongan dengan menghubungi Layanan Konseling Gratis Narkoba YCAB-Telkom Peduli Konseling Narkoba 24 jam, 0800-1-663784.
********
|
 |
|
 |
 |
|
 |