
Pembatasan yang dialamatkan kepada anak perempuan atau remaja perempuan memang sangat menyesakkan, Saru kalau tertawa terbahak-bahak, berbicara tidak boleh keras-keras,harus lemah lembut, harus berpakaian sebagaimana yang dikategorikan lingkungan, dan sebagainya. Jika saja alasan tersebut cukup logis, kenapa tidak diberlakukan kepada laki-laki juga? Kenapa laki-laki jika kasar, sembrono, dan memakai pakaian dengan berbagai model seenaknya kadangkala dianggap “jantan” dan lingkungan menganggap sah-sah saja. Demikian pula ketika pengertian “jantan” ini didefinisikan dengan penaklukan terhadap makhluk perempuan (memperkosa, memukul, atau menikahi). Dengar saja cerita anak muda atau laki-laki yang telah uzur tentang petualangan-petualangan mereka menaklukkan perempuan.
Nampaknya sangat menyedihkan karena anak perempuan dan remaja perempuan serba dibatasi untuk membentuk suatu pribadi yang hanya menjadi incaran ego laki-laki saja. Sementara anak laki-laki terbebas dari kondisi tersebut.
Persoalan di atas merupakan gambaran bahwa menjadi perempuan dengan identitas diri sendiri dan memiliki integritas sendiri terbukti sangat sulit, terlebih ketika perempuan mulai menikah. Ketika menikah, perempuan mau tidak mau harus memasuki peran yang mengharuskannya berkorban untuk orang lain. Tidak jadi masalah jika pengorbanan tersebut dilakukan dengan kesadaran penuh dan keinginan dari dirinya sendiri. Akan menjadi masalah jika ternyata hal itu terjadi karena pemaksaan yang tidak kentara tadi. Saya jadi ingat juga cerita tentang RA Kartini yang harus segera dinikahkan untuk meredam ambisi dan cita-citanya. Pemerintah kolonial Belanda tidak menginginkan Kartini untuk menjadi dirinya sendiri, mewujudkan keinginan dan impiannya bagi terciptanya perempuan-perempuan pribumi yang cerdas. Pernikahannya merupakan suatu bentuk pemaksaan yang tidak kentara dari pemerintah kolonial Belanda agar Kartini melupakan cita-citanya.
Pemaksaan tidak kentara melalui perkawinan juga masih terjadi hingga saat ini, bahkan barangkali terjadi pada diri kita sendiri. Contohnya seorang teman saya harus menginap di rumah sakit beberapa hari karena kena stress akut sehingga dikhawatirkan bunuh diri. Teman saya ini sangat enerjik dan lincah. Semasa kuliah, kegiatannya seabrek, sulit sekali menemukannya diam beberapa menit saja. Ketika menikah, ia mendapatkan suami yang sangat memujanya dan kaya raya sehingga tidak memperbolehkan ia ke mana-mana tanpa suami. Tidak boleh bekerja di luar rumah dan sebagainya. Ternyata teman saya tidak bisa menerimanya. Ia tidak menginginkan pembatasan-pembatasan tersebut sehingga ia minta cerai. Sang suami tentu saja menolak, akibatnya teman saya ini harus menanggung derita sekian lama.
Tapi pernikahan tidak selamanya mengikat ketika kita beruntung menemukan pasangan yang mau mengerti kita sehingga ia pun bisa memahami keinginan, cita-cita, dan impian kita. Tapi menemukan pasangan semacam ini memang sulit dan tidak ada garansinya. Bagaimana dengan pasangan kita yang tidak mendukung?
Jika Anda belum beruntung dengan pasangan yang tidak memahami Anda, maka menjadi diri sendiri adalah usaha yang mutlak dilakukan. Dengan menjadi diri sendiri kita bisa tampil natural dan manusiawi karena kita tampil dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Jika kita berani menjadi diri kita sendiri dan tidak mem-beo orang lain (public figure, orang tua, ataupun suami) maka kita akan tampil percaya diri dengan kemampuan diri sendiri, integritas yang kita miliki.
Tapi bagaimana dengan kita yang merasa belum memiliki kemampuan diri atau merasa tidak yakin dengan diri sendiri ?
1.Percaya bahwa diri kita cukup berharga, bagaimanapun keadaan kita. Dengan rasa percaya ini kita gali kelebihan dalam diri kita sehingga kita bisa menemukan kebanggaan atas diri kita.
2.Memperluas wawasan. Dengan wawasan yang luas kita bisa menjadikan diri kita jauh lebih baik, karena wawasan yang luas juga merupakan kelebihan yang bisa dibanggakan. Wawasan yang luas bisa diperoleh dengan membaca buku, majalah, koran, berita di televisi ataupun film-film.
3.Bersikap kreatif dalam arti mau mencoba sesuatu yang baru yang ingin kita lakukan atau katakan atau tuliskan.
4.Menjadikan rumah tangga sebagaimana yang kita inginkan bersama pasangan. Harus ada kompromi kedua belah pihak, bukan hanya kita atau pasangan kita saja. Jika kita menjadi ibu rumah tangga, pasangan kita harus tahu bahwa mengatur keluarga dan rumah membutuhkan perhatian dan keterampilan yang tidak sepele. Karena itu kita berhak mendapatkan penghargaan atas apa yang kita kerjakan.
Bila kita sudah menyadari dan merasa hidup dengan jalan dan pilihan diri sendiri, selayaknya pula kita siap menghadapi konsekuensinya.Yang terpenting adalah untuk tidak menganggap apa yang kita lakukan adalah sebagai sikap egoistis.Tak perlu ada perasaan bersalah di sini.Sebagai manusia, perempuan dan laki-laki memiliki keinginan yang terdalam,yang menyangkut dirinya sendiri, mulai dari makanan yang paling disukai, baju yang paling nyaman dipakai, atau kendaraan yang paling disukai. Itu baru yang bersifat material dan dapat terjamah mata.Yang immaterial misalnya kita senang berbicara tentang politik, sosial, budaya, atau musik ya bicaralah! Atau kita sekadar senang mendengarkan sahabat kita bicara dan jadi pendengar yang baik, jadilah. Atau kita senang sesekali melamun bisa menjadi pelajar di SMU De Britto yang semua muridnya laki-laki. Atau bila kita memiliki impian yang belum bisa kita lakukan, cobalah. Mungkin dengan sekadar membagi cerita dengan sahabat kita. Apalagi bila kemudian kita bisa mewujudkannya. Itu semua semata agar kita bisa merasa bahagia, dengan menjadi diri sendiri, rileks dengan diri sendiri. Apa adanya.