Tentang Nurul Award/Achievement Kontak Kami
Go!
PROFILE
NURUL & INFO
Nurul & Narkoba
Nurul & HIV/AIDS
Nurul & Gender
Nurul & Politik
BERITA & CERITA
CURHAT
SITEMAP
 
 
 
Artikel Nurul & Gender
8 Maret Hari Perempuan Internasional:
Perempuan di Senayan Meningkat
DOUCHING VAGINA, APAKAH PERLU?
KEBANGKITAN PEREMPUAN INDONESIA DALAM BIDANG SENI BUDAYA
KIPRAH SENIMAN PEREMPUAN INDONESIA
Peluncuran Database Profil Perempuan Potensial Partai Politik dan masyarakat Sipil untuk Pencalonan
Cuma Rp 500 Kita Bisa Mengubah Indonesia Lebih Baik
KEKERASAN DALAM PACARAN
PEMAHAMAN JENDER DI KALANGAN REMAJA
PEREMPUAN DAN KESEHATAN REPRODUKSI (BAGIAN 2)
PEREMPUAN DAN KESEHATAN REPRODUKSI (BAGIAN 1)
MENJADI DIRI SENDIRI (BAGIAN 2)
 
NURUL & INFO > Nurul & Gender

PEREMPUAN DAN KESEHATAN REPRODUKSI (BAGIAN 1)

dsc_0934 Bicara tentang perempuan dan kesehatan reproduksi tidak bisa hanya bicara tentang aspek klinis saja, tetapi lebih jauh dari itu, kesehatan reproduksi juga terletak pada aspek sosial yang berhubungan erat dengan sistem sosial, politik dan ekonomi. Bahkan ini juga tak terlepas dari persoalan nilai, etika dan agama.

Dan kenyataannya selama ini bicara tentang perempuan dan kesehatan reproduksi maka perempuan lebih banyak dirugikan karena sistem yang mengitarinya tadi. Perempuan lebih banyak menjadi obyek daripada subyek bahkan terhadap tubuhnya sendiri.

Contohnya saja remaja perempuan pada umumnya memiliki pengetahuan yang terbatas tentang organ reproduksi dan seksualitas karena masyarakat menabukan orang tua bicara hal ini kepada anak-anaknya. Akibatnya banyak remaja perempuan yang hamil diluar nikah, kena penyakit menular seksual, menjadi perempuan panggilan secara diam-diam karena sudah dinodai oleh pacarnya atau karena tak tahan dengan kemiskinan orang tua. Sedemikian kronisnya masalah ini sehingga untuk ukuran kota pedalaman semacam Merauke saja angka remaja yang megidap penyakit seksual menular sudah sangat tinggi.

Belum lagi jika bicara tentang acara perjodohan yang mengakibatkan perempuan harus menikah dan melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang tidak disukainya. Kemudian ketika ia melahirkan dan menyusui, tidak ada jaminan bahwa perempuan pada masa itu berhak mendapatkan gizi yang cukup. Persoalan juga muncul ketika perempuan harus memilih alat kontrasepsi karena ia enggan hamil kembali atau diminta tidak hamil lagi. Jarang sekali perempuan lah yang menentukan alat kontrasepsi yang cocok dan sehat baginya. Kebanyakan justru dokter, bidan dan suami yang memilihkan. Bahkan program pembatasan anak itu sendiri lebih ditujukan pada perempuan seakan-akan pemerintah lupa bahwa warganegara yang bertanggungjawab terhadap proses reproduksi anak terdiri dari warganegara laki-laki dan perempuan.

Sedemikian kompleks masalah yang menyelimuti perempuan, termasuk persoalan kesehatan reproduksi ini. Kenyataan bahwa kesehatan merupakan hak setiap manusia atau setiap warganegara kadangkala terlupakan ketika perempuan mengalami masalah dalam kesehatannya. Misalnya saja, sebab kematian ibu hamil dan melahirkan, atau pelayanan aborsi yang masih simpang siur tidak menemukan kejelasan hingga saat ini.
Sementara jika ada anggota keluarga lain mengalami masalah dalam kesehatannya maka perempuan sebagai ibu dianggap bertanggungjawab untuk merawat dan menyembuhkan.

Keterkaitan perempuan dengan hal-hal diluar dirinya selalu dipaksakan oleh sistem sebagai bentuk pengabdian perempuan yang wajar. Perempuan juga tidak dikondisikan untuk mengenal dirinya sendiri sehingga banyak perempuan yang tidak menyadari hal-hal yang penting untuk dirinya seperti kesehatan dan pendidikan. Selain itu minimnya pengetahuan atau informasi mengenai kesehatan reproduksi yang lengkap yang bisa mereka miliki juga turut mempengaruhi mengapa mereka menjadi tidak perhatian terhadap masalah kesehatan reproduksinya.
Hal ini sangat disayangkan karena dalam beberapa kasus perempuan yang kena penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS tertular dari suaminya. Jadi ketidakmengertian perempuan terhadap kesehatan reproduksinya menambah resiko terjadinya penularan penyakit menular seksual kepadanya.


Tanggapan terhadap buku Informasi Kesehatan Reproduksi Perempuan

Berdasarkan hal itu maka saya menyambut gembira terbitnya buku Informasi Kesehatan Reproduksi Perempuan yang bisa memberikan informasi lengkap tentang kesehatan perempuan. Jadi bukan hanya tentang kesehatan reproduksi dan penyakit menular seksual saja, tetapi juga termasuk didalamnya informasi tentang gizi dan kesehatan perempuan secara umum.
Karena bicara tentang sehat tidak akan cukup jika perempuan tidak mengerti bagaimana untuk menjadi sehat. Asupan gizi yang baik adalah salah satu caranya.

Menurut saya, buku ini memberikan pengetahuan yang lengkap dan jelas tentang kesehatan reproduksi perempuan. Mulai dari pengenalan organ reproduksi dan proses reproduksi seperti; hubungan seksualitas , kehamilan, persalinan, menyusui, hingga masalah menopouse yang saat ini tengah marak diperbincangkan karena banyak perempuan memiliki persepsi keliru tentang hal satu ini.
Buku ini tidak hanya ditujukan untuk perempuan dewasa pada umumnya, tapi juga bisa untuk remaja yang baru mengenal organ reproduksinya dan mengenal masalah seksualitas. Buku ini sekaligus juga bisa memberi informasi bagi orangtua yang memiliki remaja untuk mengetahui pemikiran-pemikiran remaja tentang organ reproduksi dan seksualitas. Tak terkecuali juga berguna bagi orang tua untuk melakukan pendekatan yang tepat bagi pemberian pendidikan seks kepada anaknya.

Melalui buku ini perempuan bisa mengenal lebih jauh organ reproduksinya sendiri dan mendalami informasi yang berkaitan dengan kegiatan reproduksi. Informasinya sangat lengkap dan penting bagi perempuan dan disampaikan dalam bahasa yang mudah dimengerti, tidak terlalu ilmiah. Hanya saja untuk peluncuran tahun 2002 ini sangat disayangkan beberapa data yang digunakan adalah data lama. Seperti bahwa data HIV/AIDS yang dipakai adalah data tahun 1993 dan itu pun data Asia Tenggara, tidak langsung khusus data Indonesia. Di Indonesia sendiri menurut data Juni 2002 ditemukan bahwa tiga besar media penularan HIV/AIDS adalah melalui melalui hubungan seksual, IDU dan tranfusi darah.

Buku ini perlu bagi perempuan karena bisa memberi wawasan bagi perempuan bahwa perempuan memiliki hak sepenuhnya terhadap tubuhnya sendiri.
Hal ini sangat penting karena memiliki informasi mengenai kesehatan reproduksi dan berupaya untuk sehat secara umum maupun sehat organ reproduksinya juga merupakan hak bagi perempuan.

Selama ini salah satu kendala terbesar bagi perempuan dalam mencapai standar kesehatan optimal adalah ketidaksamaan hak baik antara laki-laki dan perempuan, maupun antar perempuan di berbagai daerah, kelas-kelas sosial, kelompok-kelompok etnis dan sebagainya.
Dengan buku ini saya yakin wawasan dan pengetahuan perempuan tentang kesehatan reproduksinya akan menjadi lebih baik.

NURUL ARIFIN

MENJADI DIRI SENDIRI (BAGIAN 2)

21_01Pembatasan yang dialamatkan kepada anak perempuan atau remaja perempuan memang sangat menyesakkan, Saru kalau tertawa terbahak-bahak, berbicara tidak boleh keras-keras,harus lemah lembut, harus berpakaian sebagaimana yang dikategorikan lingkungan, dan sebagainya. Jika saja alasan tersebut cukup logis, kenapa tidak diberlakukan kepada laki-laki juga? Kenapa laki-laki jika kasar, sembrono, dan memakai pakaian dengan berbagai model seenaknya kadangkala dianggap “jantan” dan lingkungan menganggap sah-sah saja. Demikian pula ketika pengertian “jantan” ini didefinisikan dengan penaklukan terhadap makhluk perempuan (memperkosa, memukul, atau menikahi). Dengar saja cerita anak muda atau laki-laki yang telah uzur tentang petualangan-petualangan mereka menaklukkan perempuan.
Nampaknya sangat menyedihkan karena anak perempuan dan remaja perempuan serba dibatasi untuk membentuk suatu pribadi yang hanya menjadi incaran ego laki-laki saja. Sementara anak laki-laki terbebas dari kondisi tersebut.

Persoalan di atas merupakan gambaran bahwa menjadi perempuan dengan identitas diri sendiri dan memiliki integritas sendiri terbukti sangat sulit, terlebih ketika perempuan mulai menikah. Ketika menikah, perempuan mau tidak mau harus memasuki peran yang mengharuskannya berkorban untuk orang lain. Tidak jadi masalah jika pengorbanan tersebut dilakukan dengan kesadaran penuh dan keinginan dari dirinya sendiri. Akan menjadi masalah jika ternyata hal itu terjadi karena pemaksaan yang tidak kentara tadi. Saya jadi ingat juga cerita tentang RA Kartini yang harus segera dinikahkan untuk meredam ambisi dan cita-citanya. Pemerintah kolonial Belanda tidak menginginkan Kartini untuk menjadi dirinya sendiri, mewujudkan keinginan dan impiannya bagi terciptanya perempuan-perempuan pribumi yang cerdas. Pernikahannya merupakan suatu bentuk pemaksaan yang tidak kentara dari pemerintah kolonial Belanda agar Kartini melupakan cita-citanya.

Pemaksaan tidak kentara melalui perkawinan juga masih terjadi hingga saat ini, bahkan barangkali terjadi pada diri kita sendiri. Contohnya seorang teman saya harus menginap di rumah sakit beberapa hari karena kena stress akut sehingga dikhawatirkan bunuh diri. Teman saya ini sangat enerjik dan lincah. Semasa kuliah, kegiatannya seabrek, sulit sekali menemukannya diam beberapa menit saja. Ketika menikah, ia mendapatkan suami yang sangat memujanya dan kaya raya sehingga tidak memperbolehkan ia ke mana-mana tanpa suami. Tidak boleh bekerja di luar rumah dan sebagainya. Ternyata teman saya tidak bisa menerimanya. Ia tidak menginginkan pembatasan-pembatasan tersebut sehingga ia minta cerai. Sang suami tentu saja menolak, akibatnya teman saya ini harus menanggung derita sekian lama.
Tapi pernikahan tidak selamanya mengikat ketika kita beruntung menemukan pasangan yang mau mengerti kita sehingga ia pun bisa memahami keinginan, cita-cita, dan impian kita. Tapi menemukan pasangan semacam ini memang sulit dan tidak ada garansinya. Bagaimana dengan pasangan kita yang tidak mendukung?

Jika Anda belum beruntung dengan pasangan yang tidak memahami Anda, maka menjadi diri sendiri adalah usaha yang mutlak dilakukan. Dengan menjadi diri sendiri kita bisa tampil natural dan manusiawi karena kita tampil dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Jika kita berani menjadi diri kita sendiri dan tidak mem-beo orang lain (public figure, orang tua, ataupun suami) maka kita akan tampil percaya diri dengan kemampuan diri sendiri, integritas yang kita miliki.

Tapi bagaimana dengan kita yang merasa belum memiliki kemampuan diri atau merasa tidak yakin dengan diri sendiri ?
1.Percaya bahwa diri kita cukup berharga, bagaimanapun keadaan kita. Dengan rasa percaya ini kita gali kelebihan dalam diri kita sehingga kita bisa menemukan kebanggaan atas diri kita.

2.Memperluas wawasan. Dengan wawasan yang luas kita bisa menjadikan diri kita jauh lebih baik, karena wawasan yang luas juga merupakan kelebihan yang bisa dibanggakan. Wawasan yang luas bisa diperoleh dengan membaca buku, majalah, koran, berita di televisi ataupun film-film.

3.Bersikap kreatif dalam arti mau mencoba sesuatu yang baru yang ingin kita lakukan atau katakan atau tuliskan.

4.Menjadikan rumah tangga sebagaimana yang kita inginkan bersama pasangan. Harus ada kompromi kedua belah pihak, bukan hanya kita atau pasangan kita saja. Jika kita menjadi ibu rumah tangga, pasangan kita harus tahu bahwa mengatur keluarga dan rumah membutuhkan perhatian dan keterampilan yang tidak sepele. Karena itu kita berhak mendapatkan penghargaan atas apa yang kita kerjakan.

Bila kita sudah menyadari dan merasa hidup dengan jalan dan pilihan diri sendiri, selayaknya pula kita siap menghadapi konsekuensinya.Yang terpenting adalah untuk tidak menganggap apa yang kita lakukan adalah sebagai sikap egoistis.Tak perlu ada perasaan bersalah di sini.Sebagai manusia, perempuan dan laki-laki memiliki keinginan yang terdalam,yang menyangkut dirinya sendiri, mulai dari makanan yang paling disukai, baju yang paling nyaman dipakai, atau kendaraan yang paling disukai. Itu baru yang bersifat material dan dapat terjamah mata.Yang immaterial misalnya kita senang berbicara tentang politik, sosial, budaya, atau musik ya bicaralah! Atau kita sekadar senang mendengarkan sahabat kita bicara dan jadi pendengar yang baik, jadilah. Atau kita senang sesekali melamun bisa menjadi pelajar di SMU De Britto yang semua muridnya laki-laki. Atau bila kita memiliki impian yang belum bisa kita lakukan, cobalah. Mungkin dengan sekadar membagi cerita dengan sahabat kita. Apalagi bila kemudian kita bisa mewujudkannya. Itu semua semata agar kita bisa merasa bahagia, dengan menjadi diri sendiri, rileks dengan diri sendiri. Apa adanya.
 
Copyright © 2008 Nurul Arifin. All Rights Reserved. Developed by Proweb