Tentang Nurul Award/Achievement Kontak Kami
Go!
PROFILE
NURUL & INFO
Nurul & Narkoba
Nurul & HIV/AIDS
Nurul & Gender
Nurul & Politik
BERITA & CERITA
CURHAT
SITEMAP
 
 
 
Artikel Nurul & Narkoba
Narkoba - Farmville di Facebook
Peredaran Narkoba di Bali Memprihatinkan
Remaja Semakin Rentan Tertular HIV/AIDS
NARKOBA JENIS BARU
KITA PERLU BELAJAR DARI BALTIMORE
APA YANG BISA KITA LAKUKAN?
PEREMPUAN LEBIH MUDAH MENJADI PECANDU
ISTILAH SEPUTAR NARKOBA
CIRI-CIRI PEMAKAI NARKOBA
SEBUAH RENUNGAN, MEMPERINGATI HARI ANTI MADAT SEDUNIA
 
NURUL & INFO > Nurul & Narkoba

SEBUAH RENUNGAN, MEMPERINGATI HARI ANTI MADAT SEDUNIA

30 Hari Kamis lalu, tanggal 26 Mei 2002 sejak pukul 11.00 jalan-jalan di ibukota Jakarta seperti biasanya dipadati oleh kendaraan seperti mobil, motor ataupun kendaraan barang. Namun pada hari itu ada yang berbeda, mereka menyalahkan lampu depannya sebagai tanda kepedulian mereka terhadap masalah narkoba di negeri ini.

Tidak hanya mobil sedan mewah yang barangkali pemiliknya memiliki pendidikan dan wawasan yang cukup bahwa bahaya narkoba sudah mengkhawatirkan. Tapi juga pengendara motor, sosok-sosok individu yang mewakili masyarakat kebanyakan. Lampu motornya yang menyala terang di tengah terik Jakarta membuat saya berpikir bahwa mereka pun merasakan dampak negatif narkoba yang ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita. Bukan itu saja, kendaraan semacam bis, metro mini, ataupun truk pengangkut barang juga memperlihatkan kepedulian mereka dengan nyala lampunya yang membangkitkan semangat. Ini fenomena bahwa narkoba bukanlah masalah segelintir orang saja, bukan masalah kelas atas ataupun kelas orang berduit lebih, tapi juga masalah orang miskin, orang yang tidak cukup punya uang untuk membeli narkoba yang mahal tapi bisa membeli yang murah. Dan ketika ia jadi pecandu, maka ia dengan sukarela menjadi pengedar untuk memenuhi kebutuhannya akan narkoba dan untuk membangun impiannya menjadi orang berduit dengan cara tak halal.

Kamis lalu itu, kita di Indonesia juga merayakan hari anti madat sedunia. Bukan seremonial yang hendak diperbincangkan, tetapi perayaan anti madat sedunia ini merupakan kilas balik terhadap apa yang sudah kita lakukan untuk memerangi narkoba. Karena narkoba seperti kanker yang tak kentara awalnya, ia menumpang hidup, ketika semakin besar dan banyak, ia mulai mematikan kehidupan itu sendiri.
Saya yakin bahwa banyak orang juga tidak menyadari ketika pertama mengkonsumsi narkoba. Mereka merasa tidak ada bahaya yang berarti dari narkoba kecuali bahwa narkoba adalah alat pergaulan yang paling ‘fungky’ saat ini. Banyak orang tidak menyadarinya seperti ketika kanker mulai muncul di tubuh seseorang. Ketika kanker mulai berkembang biak, maka orang mulai candu pada narkoba. Mulai terhisap oleh mitos-mitos yang diciptakan dirinya sendiri atau teman-teman se’perjuangan’ tentang narkoba. Bahwa narkoba bisa meningkatkan kepercayaan diri, bahwa narkoba bisa membuat kita tampak ‘berkelas’ bahwa narkoba merupakan alat untuk bekerja dan berkarya yang paling efektif. Mitos tanpa dasar ini seperti halnya kanker yang mulai berkembang biak, perlahan tapi pasti tidak hendak melepaskan korbannya.

Akhirnya ia tiba pada langkah untuk mematikan kehidupan itu sendiri. Barang-barang tergadaikan, terjual dan hutang-hutang menumpuk untuk membeli narkoba, dan ketika tiba saatnya, hidupun mati karena over dosis atau positif HIV /AIDS karena jarumnya tertular. Seperti halnya kanker, ini adalah masa orang harus merelakan hidupnya saat kanker sudah menjajah sebagian besar tubuhnya. Apakah bisa terselamatkan ? Mungkin ya, jika sejak dini kita telah mengetahui ada kanker di tubuh kita dan kita berusaha untuk mengobatinya. Tapi banyak ahli juga mengatakan bahwa kunci dari melepaskan diri dari semua penyakit adalah kepercayaan pada diri sendiri, keinginan yang sangat kuat untuk sembuh. Kita mungkin masih ingat Nita Tilana ? Meskipun kanker akhirnya membawanya juga, akan tetapi semangat dan keinginannya untuk sembuh telah membuatnya sangat kuat. Pecandu narkoba juga seperti pasien yang kena kanker, harus ada semangat dan keinginan untuk sembuh yang sangat kuat. Karena tanpa itu, meskipun pengobatan dilakukan di tempat-tempat tertentu yang sangat mahal dan terkenal, tidak ada jaminan korban narkoba akan sembuh jika ia tidak memiliki keinginan untuk sembuh.

Perayaan anti madat sedunia ini sekali lagi mengingatkan kita bahwa narkoba bukanlah sesuatu yang patut dicoba-coba. Ia seperti one way ticket , tiket sekali jalan, dimana jika kita beruntung saja kita bisa kembali. Tidak ada jaminan bahwa kita bisa kembali. Kalaupun bisa, tentu keadaannya tidak sama seperti dahulu sebelum kenal narkoba. Saya kenal seseorang yang pintar dan kreatif, narkoba telah mengubahnya menjadi sosok yang memuakkan karena tiada henti merongrong orang tua dan mencuri, belum lagi sikapnya yang selalu kasar dan tidak sabaran. Sebuah sosok yang asing. Dengan segala upaya, tenaga, uang dan airmata, akhirnya dia bisa diselamatkan. Tapi kita merasa bahwa dia tidak secemerlang dahulu kala. Sayang sekali ia telah membuang masa emasnya dengan coba-coba mengenal narkoba. Keberuntunganlah yang telah menyelamatkan dia kembali, tetapi ia tetap saja tidak sama dengan dahulu.

Saya bayangkan seandainya madat tidak pernah mengancam kehidupan kita, maka hidup akan jauh lebih indah. Tidak ada kerugian-kerugian karena temperamen kasar dan penuh curiga para pecandu. Tidak ada kehilangan-kehilangan akibat pencurian yang setiap saatnya terus meningkat. Bahkan ketika ia tidak punya sesuatupun untuk dicuri lagi, ia bisa menjual tubuhnya. Laki-laki ataupun perempuan.


Narkoba tidak bisa membuat pikiran kita berjalan logis, keterikatan yang kuat pada sesuatu yang rapuh dan kosong. Apa yang ditawarkan narkoba ? kecuali kenikmatan seperti mimpi siang hari yang akan segera menguap pergi begitu kita terjaga. Sementara tidur siang hari tidak lama, masih banyak jam-jam dimana kita harus membuka mata. Merasakan rasa sakit dan kehampaan karena narkoba tidak pernah bisa mengisi jiwa kita.
 
Copyright © 2008 Nurul Arifin. All Rights Reserved. Developed by Proweb