SUARA    GOLKAR    SUARA    RAKYAT                                                SUARA    GOLKAR    SUARA    RAKYAT

Nurul: Personal is Politics

NurulArifin.Com – Rabu, 19 oktober 2011, Nurul Arifin diundang menjadi dosen tamu pada acara Stadium Generale Prodi Ilmu Politik Universitas Bakrie.  Kampus modern yang terletak di pusat area kuningan ini memang baru membuka kelas politiknya tahun ini.

Dalam stadium generale ini Mba Nurul membawakan materi “Kerennya Belajar Ilmu Politik.” Tema yang cukup “asyik” ini memang berusaha menggali pengalaman Mba Nurul dalam dunia politik, bagaimana jalan cerita dan motivasi mba Nurul terjun ke dunia politik yang “katanya” adalah dunia yang kotor dan jahat.

Memulai presentasinya, mba Nurul menyatakan bahwa ketertarikannya pada dunia politik karena personal is politics, dalam arti semua hal yang menyangkut hidup kita, bahkan yang sangat pribadi dan intim telah diatur oleh kebijakan politik (negara). Contohnya bagaimana urusan ranjang/kasur, yakni berapa banyak anak yang ingin direncanakan pasangan menikah harus mengikuti aturan negara. Di Cina, ada pembatasan anak hanya boleh satu, di Jepang justru sebaliknya.

Warga negaranya dihimbau untuk beranak pinak sebanyak-banyaknya atau di Indonesia dengan program KB dua anak saja. Tidak hanya itu, urusan dapur, bagaimana harga cabe atau minyak yang membumbung tinggi dan membuat ibu rumah tangga panik dikarenakan kebijakan politik. Atau urusan sumur. Sumber-sumber air yang merupakan bagian kekayaan alam milik semua warga negara nyatanya sudah menjadi milik negara, sudah diatur oleh negara, melalui PDAM nya. Bahkan dengan kebijakan politik sudah menjadi milik swasta dan jadi produk komersil (air minum kemasan).

Mba Nurul meyakinkan kepada peserta Stadium Generale, yang bukan hanya mahasiswa prodi ilmu politik tapi juga mahasiswa jurusan lain dan para dosen ini, bahwa politik justru adalah sebuah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Bagi Mba Nurul  Ilmu politik justru merupakan asal muasal ilmu pengetahuan sosial lainnya karena sebenarnya sejak manusia hidup bersama, sejak saat itulah ilmu politik digunakan.

Bagaimana pembagian tugas dan kekuasaan yang ada, bagaiaman hubungan antara yang memerintah serta yang diperintah, serta sistem apa yang paling baik menjamin adanya pemenuhan kebutuhan tentang pengaturan dan pengawasan. Dan sebagainya. Disinilah ilmu politik tumbuh dan berkembang.

Bermunculan pemikir, para filsuf yang memberikan ide tentang mengatur masyarakat secara ideal.  Mba Nurul menjelaskan beberapa pemikiran dari  Socrates, Plato, Aristoteles, Thomas Hobbes, John Locke, JJ Rousseau maupun Montesque tentang pembagian kekuasaan menjadi tiga, yakni Eksekutif, Yudikatif dan legislatif.
Pada intinya para filsuf dan ilmuwan politik  seperti Gabriel Almond maupun David Easton yang disebut Mba Nurul menginginkan ilmu politik menjadi aturan main bagaimana sebuah negara dikelola agar tercapai tujuan awal “kontrak sosial” yaitu kesejahteraan. Tentu saja ketika terjadi disfungsi dari sistem, sehingga banyak persoalan muncul seperti korupsi, konflik dan sebagainya  karena persoalan perilaku aktor politiknya yang masih jauh dari hal-hal ideal dan bukan karena ilmu politiknya.

Dari sini mba Nurul menceritakan pengalamannya sebagai anggota legislatif, apa yang menjadi fungsi dan tugas seorang anggota legislatif. Pengalaman ini menarik perhatian peserta stadium generale sehingga ketika sesi tanya jawab, sebagian besar menanyakan hal yang terkait dengan pengalaman mba Nurul menjadi anggota legislatif, termasuk berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menjadi seorang anggota DPR terpilih.

Pertanyaan lain juga sangat menarik, dari mulai bagaimana kasus konflik perbatasan sampai dengan soal dampak “patron-client” dalam masa depan proses politik di Indonesia. Antusiasme peserta untuk bertanya sangat besar sehingga moderator terpaksa membatasi sesi tanya jawab hanya untuk dua sesi.  Hal yang menarik dari acara stadium generale ini adalah fakta bahwa mahasiswa Universitas Bakrie ternyata cukup kritis dan antusiasm.[Sekar]

Tags: 
Subscribe to Comments RSS Feed in this post

2 Responses

  1. Pingback: yosua ritonga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

*