SUARA    GOLKAR    SUARA    RAKYAT                                                SUARA    GOLKAR    SUARA    RAKYAT

Pegang Prinsip Profesional dan Loyalis Partai

Karir politik Nurul Arifin sudah dimulai tujuh tahun lalu di Partai Golkar. Namun, baru sekitar setahun ini mantan artis itu menghuni kursi Senayan. Sebagai anggota DPR, Nurul berprinsip tidak hanya menjadi legislator yang mengumbar komentar semata.

TRI MUJOKO BAYUAJI, Jakarta

STIGMA negatif terhadap kemampuan politikus dari artis, tampaknya, harus dijauhkan dari sosok Nurul. Perempuan kelahiran Bandung, 18 Juli 1966, itu telah melakukan proses menjadi seorang politikus dalam waktu yang panjang. Karir politik Nurul dimulai dengan terjun sebagai aktivis LSM kemanusiaan dan gender pada 90-an.

“Kelompok-kelompok itu adalah kekuatan yang memengaruhi saya, termasuk cara berpikir saya,” kata Nurul kepada Jawa Pos. Keinginan untuk terjun sebagai aktivis itu diawali oleh kesadaran sosial Nurul atas isu-isu perempuan.

Pada awalnya Nurul hanya terlibat sebagai sukarelawan. Posisinya sebagai artis saat itu memudahkannya untuk dekat dengan para korban AIDS, narkoba, ataupun kekerasan terhadap perempuan. “Kegiatan itu pada awalnya hanya memenuhi kebutuhan batin saya untuk menolong,” ujar istri Mayong Suryo Laksono itu.

Dari sekadar kebutuhan batin, ternyata hal tersebut mengubah pandangan publik terhadap Nurul. Dari hanya sebagai artis ternama, Nurul pun mendapat berbagai penghargaan atas jasanya sebagai aktivis kemanusiaan. Tercatat, dua kali Nurul menerima beasiswa studi dari Ford Foundation. Nurul mendapat kehormatan untuk mempelajari lebih jauh gender dan seksualitas di Universitas Indonesia (UI) pada 1999 dan 2000. “Penghargaan itu sebagai bonus,” kata perempuan peraih penghargaan Artis Peduli AIDS 1999 tersebut.

Karena lingkungan LSM hanya berpengaruh sebagai esktraparlemen, Nurul memutuskan terjun ke dunia politik sebenarnya melalui parpol. Dengan kemampuan dan latar belakang pendidikannya, Nurul dinilai mampu berbicara banyak sebagai salah seorang kader partai. Dukungan pun datang dari dua aktivis perempuan, Ani Sucipto dan Eni Soekamto. “Pada 2003 saya masuk Golkar,” ujarnya.

Masuk atas ajakan Ketua DPP Golkar Slamet Effendy Yusuf, Nurul langsung dijagokan menjadi salah seorang calon legislatif pada Pemilu 2004. Hasilnya, Nurul meraih suara terbanyak. Namun, sistem nomor urut dan rasio hitungan bilangan pembagi pemilih (BPP) saat itu menghalangi Nurul masuk ke Senayan. “Saya sempat kecewa saat itu,” katanya.

Namun, kekecewaan tersebut tidak menjadikan Nurul keluar dari Partai Golkar. Bagi dia, ada sarana perjuangan lain, yakni membantu Golkar menumbuhkan citra baru. Meski saat itu muncul banyak tawaran dari partai lain untuk pindah, Nurul tidak berkeinginan sedikit pun untuk menjadi kutu loncat. “Saya tidak merasa sia-sia (tidak lolos). Buat saya, menjadi politikus harus menunjukkan komitmen dan loyalitas,” ujar peraih Young Global Leaders dari World Forum, Swiss, pada 2005 itu.

Loyalitasnya pun membuahkan hasil. Pemilu 2009 dengan sistem suara terbanyak meloloskan putri pasangan Moh. Yusuf Arifin dan Anne Marie itu. Oleh Fraksi Partai Golkar, Nurul ditempatkan untuk menjalankan fungsi legislasi di Komisi II DPR. Komisi bidang pemerintahan, otonomi, dan kepemiluan cocok dengan latar belakang akademis Nurul di bidang politik.

Selama hampir setahun menjabat sebagai anggota dewan, Nurul dihadapkan pada konstelasi politik yang sibuk. Sejumlah anggota DPR kerap melontarkan isu yang menimbulkan kritik publik. Sejumlah anggota DPR lain kerap memanfaatkan sejumlah isu nasional untuk berkomentar pedas. Bahkan terkadang, seorang anggota dewan ingin menunjukkan kapasitasnya dengan mengomentari setiap isu yang ada.

Mengomentari sikap para anggota DPR itu, Nurul menyatakan tidak ingin terjebak sebagai anggota DPR yang populer. Latar belakang sebagai mantan aktivis tidak membuat Nurul terjebak pada posisi harus membela. Menurut dia, mengomentari setiap isu yang ada justru bukan sikap bijak. “Memang kekuatan politikus ada pada ucapan, namun saya tidak ingin menjadi generalis,” ujarnya.

Bagi dia, setiap anggota dewan sebaiknya menyampaikan sesuatu sesuai dengan ukuran yang ada pada dirinya. “Saya tidak ingin jadi generalis, tapi fokus,” ungkapnya. Apalagi, latar belakang sebagai aktivis Asosiasi Ilmu Politik juga menuntut Nurul tidak sembarang bicara. “Saya harus menjaga martabat korps saya,” jelas lulusan Lemhanas itu.

Dalam setiap pembahasan RUU, Nurul kerap menyampaikan idealismenya. Namun, terkadang idealisme tersebut harus kalah oleh keputusan parpol. Sebagai contoh, dalam pembahasan RUU penyelenggara pemilu, Nurul adalah sosok yang berpendapat bahwa keanggotaan KPU harus bebas dari parpol. Keputusan Partai Golkar ternyata berpendapat lain. “Saya mau tidak mau harus menuruti kebijakan partai,” kata Nurul.

Namun, idealisme itu tidak harus gugur sepenuhnya. Menurut Nurul, idealisme memang tidak selalu menang. Namun, idealisme itu setidaknya bisa diselipkan dalam setiap keputusan yang dihasilkan partai. “Saya harus lebih luwes untuk memainkan pedangnya saja,” ujarnya.

Prinsip bekerja secara profesional itu ternyata juga dipantau partai. Sebagai salah seorang kader muda, Nurul kini menduduki jabatan sebagai wakil Sekjen DPP Partai Golkar. Pencapaian tersebut adalah prestasi dari sikap profesional yang selama ini dia jalankan. “Ketika profesionalisme dijalankan, penghargaan itu akan datang dengan sendirinya,” tandasnya.

Sumber: Jawa Pos, 17 September 2010

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

One Response

  1. Pingback: slamet effendy yusuf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

*