SUARA    GOLKAR    SUARA    RAKYAT                                                SUARA    GOLKAR    SUARA    RAKYAT

Peluncuran buku Almanak Anggota Parlemen

NurulArifin.Com – Peluncuran buku Almanak Anggota Parlemen RI 2009-2014 yang di-launching Cetro tanggal 5 oktober 2010 bertepatan dengan hari ulang tahun TNI itu dihadiri oleh Nurul Arifin dan anggota DPR lain seperti M. Romahurmuzy (PPP), Hendrawan Pratikno (PDIP), dan Ida Fauziah (PKB).

Selain itu tampak juga sejumlah pengamat politik dan parlemen, seperti J. Kristiadi (CSIS), Syamsuddin Haris (LIPI), Sebastian Salang (Formappi), Ronald Rofiandri (PSHK), dan Abdullah Dahlan (ICW).

Nurul Arifin dan anggota DPR yang hadir memberikan kesaksian pengalaman dan apa yang mereka alami terkait dengan hubungan antara anggota parlemen dan masyarakat.

Masalah yang kerap muncul adalah pragmatisme dalam masyarakat dalam melihat anggota parlemennya.  Anggota parlemen seringkali dilihat sebagai wakil rakyat yang harus menyelesaikan semua masalah masyarakat; dari mulai biaya untuk melahirkan sampai dengan biaya kematian.

Jadi sifatnya sangat teknis(terkait dengan uang) yang semestinya bukan domain pekerjaan anggota parlemen. Namun hal ini dapat dimaklumi mengingat Tidak ada juklak bagaiamana anggota parlemen dan masyarakat menerjemahkan kata”aspirasi”.  bahwa masyarakat masih berada dalam proses pembelajaran berdemokrasi. Oleh karena pendidikan politik kepada masyarakat harus dilakukan terus menerus.

Kondisi ini juga  memperlihatkan bahwa ada masalah utama bangsa ini yaitu kemiskinan;  sehingga hubungan anggota parlemen dan masyarakat baru sebatas bagaimana anggota parlemen dapat memenuhi kebutuhan dasar (sandang pangan dan papan) masyarakat. Selain bahwa  memang belum ada acuan relasi hubungan yang jelas dan dilegitimasikan dalam undang-undang tentang hubungan anggota parlemen dengan masyarakat.

Direktur Eksekutif Cetro Hadar N Gumay mengatakan ada beberapa hal menarik yang ditemukan dan dilaporkan dalam buku tersebut. Pertama, para anggota parlemen periode 2009-2014 tidak jauh berbeda dengan anggota dewan periode sebelumnya.

Hadar mengaku kesulitan menghimpun laporan harta kekayaan para anggota parlemen yang akan dimasukkan ke dalam buku tersebut. Dari total 560 anggota DPR, hanya 87 orang atau 15,53% yang secara sukarela memberikan laporan harta kekayaannya kepada Cetro. Adapun sebanyak 148 laporan harta kekayaan anggota DPR diperoleh Cetro dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).  Kedua, Politik dinasti masih cukup kental di Indonesia. Di parlemen, ada belasan suami istri atau relasi bapak-anak yang sama-sama menjadi anggota DPR. (Nm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

*