SUARA    GOLKAR    SUARA    RAKYAT                                                SUARA    GOLKAR    SUARA    RAKYAT

Nurul Arifin : Aktivisme Perempuan di Parlemen

“Loyal, Konservatif dan Totalitas.”

Itu pernyataan Nurul Arifin saat ditanya karakter dirinya dalam kerja di parlemen. Keteguhan terhadap prinsip, peran dan tanggung jawab menghasilkan capaian yang diinginkan. Ini yang bagi Nurul bisa menjamin kerja di parlemen sebagai wakil rakyat.

Hasil evaluasi anggota legislatif secara umum menilai, jauh dan tak aspiratifnya anggota legislatif terhadap rakyat karena tingginya campur tangan partai terhadap aleg. Bagi Nurul, berdasar pengalamannya, tidak. “Kalau saya sih sejauh kita kuat berargumen, partai akan mengerti dan mendukung. Saat saya mendukung peraturan KPU, saya bilang Golkar siap. Dan partai akhirya mendukung,” ujar Nurul yang menjaga tetap terlaksananya aksi afirmasi perempuan di pemilu dan parlemen ini.

Keterlibatan Nurul Arifin di dunia politik pemerintahan dimulai dengan aktualisasinya sebagai aktivis sosial. Permasalahan masyarakat seperti, penderitaan korban Aids, Narkoba atau pun kekerasan terhadap perempuan mendorong mojang kelahiran Bandung, 18 Juli 1966 ini terlibat secara aktif menjadi sukarelawan.

Keaktifan Nurul Qomaril Arifin—begitu nama terlengkapnya—disambut banyak penghargaan dan kesempatan yang baik. Nurul berhak menerima beasiswa dua kali dari Ford Foundation untuk mengikuti studi jender dan seksualitas tahun 1999 dan 2000 di FISIP Universitas Indonesia. Lalu penghargaan dari Yayasan Pelita Ilmu sebagai “Artis Peduli AIDS 1999″. Tahun 2003 terpilih sebagai salah satu perempuan berkualitas untuk kandidat anggota Legislatif versi LSM Cetro, penerima penghargaan utama Badan Narkotika Nasional Indonesia sebagai Artis Peduli Narkoba. Tahun 2004 mendapat penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup (Duta Lingkungan Hidup), penghargaan dan Duta Lingkungan Hidup WALHI, menerima penghargaan Nasional Wira Kencana dari BKKBN Pusat 2004. Tahun 2005 terpilih sebagai Young Global Leaders dari World Forum, Swiss.

Dari permasalahan perempuan

Keberadaan perempuan yang masih sangat sedikit di parlemen menjadi salah satu pendorong Nurul untuk menjadi anggota legislatif. Peraih master ilmu politik dari Universitas Indonesia ini menilai, produk undang-undang yang selama ini belum banyak mengakomodasi kepentingan perempuan disebabkan jumlah laki-laki yang jauh lebih banyak di salah satu lembaga pilar demokrasi itu.

Nurul berpendapat, di tingkat pengambilan keputusan, perempuan perlu mendapat akses dan fasilitas yang memadai, agar menghasilkan sesuatu yang mempermudah perempuan menjalankan tugasnya sebagai “pendidik” dengan sebaik-baiknya. “Tapi bagaimana mungkin hal itu akan terwujud kalau di tingkat praktik keseharian saja, banyak sekali batasan bagi perempuan?” Begitu ibu dari Maura Magnalia Madyaratri dan Melkior Mirari Manusaktri ini mengatakan.

Ketika harus memutuskan untuk membiayai sekolah anak, umpamanya, banyak orang tua yang dengan cepat menentukan bahwa laki-laki lebih mendapat prioritas. Sehingga banyak perempuan yang putus sekolah atau bahkan bahkan buta huruf,” tutur pasangan Mayong S. Laksono ini menulis pada “Tentang Nurul” di www.nurularifin.com.

Ini sejalan dengan yang terjadi di partai secara umum. Banyak partai menolak aksi afirmasi 30% kuota perempuan dengan alasan masyarakat belum siap. Pengalaman Nurul sewaktu aktif di masyarakat memberitahukan kalau sebetulnya perempuan di daerah itu begitu sadar dan vokal terhadap permasalahan masyarakat. “Anggota partai yang perempuan itu membeludak. Tapi tak ada keinginan kuat partai memberi kesempatan. Akhirnya perempuan mengurusi keseharian internal partai. Kasarnya, ini kayak persaingan kerja,” kata perempuan yang mengidolakan Kartini ini.

Kenapa Partai Golkar?

Dalam situs pribadinya Nurul menjelaskan alasan kenapa memilih Partai Golongan Karya. Nurul menyadari sekali, Golkar memiliki citra buruk masa lalu. Bagi Nurul, tak ada yang abadi di dunia selain perubahan. Dirinya percaya, niat baik perlu dihargai. “Jadi, Golkar yang saya masuki saat ini bukanlah Golkar yang kita kenal pada zaman Orde Baru lalu,” jelas penyuka warna hitam dan putih ini.

Sejak diluncurkan CETRO (Center for Electoral Reform), sebuah lembaga pengkajian masalah politik dan pemilu, 21 April 2003, yang memilih Nurul Arifin sebagai salah satu perempuan yang dianggap berpotensi menjadi calon legislatif, banyak partai yang menawarinya bergabung. Salah satunya Partai Golkar. Kemudian, lewat berbagai pertimbangan dan pemikiran, Nurul pun akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Partai Golkar.

Pengalaman Nurul di Partai Golkar menilai, Partai Golkar merupakan partai modern dan sangat terbuka. Dinamika pemikiran dan politik hidup di dalamnya. Tak ada primordialisme karena yang ditekankan adalah capaian peran. Ini yang secara ideologi dinamakan nasionalis developmentalisme. “Ini yang dipahami sebagai ideologi Golkar. Kekaryaan yang nasionalis,” jelas Nurul.

Harapan

Ketika di dunia aktivis masyarakat, Nurul melihat begitu banyak persoalan yang semuanya terkait politik. Kini peran sebagai anggota legislatif sedang dijalankan. Bagi Nurul, aktivisme di masyarakat mengenai permasalahan perempuan beserta perannya sebagai politisi perempuan membuat dirinya lebih luas dalam memandang dan menyikapi makna kebangsaan. “Saya memilih berada di Komisi Dua. Peran perubahan untuk perempuan jangan terjebak pada Komisi Sembilan atau Sepuluh yang identik dengan isu perempuan. Tapi semua komisi,” tegas penyuka karya-karya Pramoedya Ananta Toer ini.

Nurul berharap, apa yang dilakukannya bisa diterima sebagai sumbangsih kepada masyarakat, khususnya kaum perempuan. Terjun ke dunia politik bergabung dalam partai merupakan keputusan sangat besar hidupnya. Sekaligus, membawa konsekuensi dan tanggung jawab yang sangat berat. Karena itu, Nurul juga mengharapkan kendali dari masyarakat dan teman-teman aktivis agar tetap konsisten pada komitmen dan tidak larut dengan kepentingan partai yang tidak sesuai dengan misi dan visi idealnya.  (Usep Hasan Sadikin / rumah pemilu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

*