SUARA    GOLKAR    SUARA    RAKYAT                                                SUARA    GOLKAR    SUARA    RAKYAT

Nurul Arifin Meleburkan Ego dan Keartisan

Bertransformasi dari artis menjadi politisi tak mudah. Pembuktian diri memakan waktu. Di partai, dia kembali menjadi bukan siapa-siapa. Nurul Arifin (46) merasakan betul perubahan dari seorang artis menjadi kader partai politik.

“Bapak mertua saya sudah mengingatkan, jangan siap menang, tetapi harus menyiapkan diri untuk kalah.”

Menemui Koordinator Wilayah Jawa Barat untuk persiapan pencalegannya, pada 2003, sulit. Setelah mendapatkan suara terbanyak pada Pemilu 2004 pun, Nurul tak menjadi anggota DPR. Sebab saat itu caleg terpilih ditentukan dengan nomor urut, bukan suara terbanyak. Pemain film dan sinetron ini pun hanya menjadi penarik suara (vote getter).

“Bapak mertua saya sudah mengingatkan, jangan siap menang, tetapi harus menyiapkan diri untuk kalah. Selain itu, prinsip konservatif saya, kalau sudah  satu, ya satu aja. Loyalitas dan konsistensi itu memperlihatkan siapa kita,” tutur perempuan kelahiran Bandung, 18 Juli 1966 itu.

Nurul tetap konsisten dengan pilihan partainya, kendati mulai mendapat pinangan dari partai lain. Pemilu 2009 membawanya ke Senayan. Sejak itu, kiprahnya mulai terpantau. Usahanya menghasilkan ketentuan persyaratan 30 persen perempuan caleg pada Undang-Undang 8/2012 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD.

Pemain film “Naga Bonar” ini pun diakui sebagai salah satu anggota DPR yang vokal. Kritik dan pertanyaannya bermutu saat rapat-rapat Komisi II DPR. Nurul pun menjadi salah satu contoh perempuan politisi yang berhasil. Namun, itu tak datang dengan sendirinya.

Nurul mengakui, menjadi anggota DPR berarti meleburkan ego dan menanggalkan keartisan. Sebagai artis, biasanya dia cukup hadir di suatu acara dan tampil, lalu dibayar. Selain itu, kerap kali artis enggan mendiskusikan isu-isu yang berkembang di sekitarnya, kecuali gosip dan kebendaan.

Sebagai anggota DPR, dia harus duduk dan mendengarkan aspirasi masyarakat atau penjelasan mitra kerja DPR. Di sisi lain, perlu pemahaman atas berbagai masalah yang ada di sekitarnya. Apalagi, Nurul duduk di Komisi II yang membidangi pemerintahan dalam negeri dan kepemiluan.

Kini, dia dipindahkan ke Komisi I yang membidangi urusan pertahanan keamanan, penyiaran, dan masalah luar negeri. Untuk itu, kegiatannya sebagai aktivis HIV/AIDS dan aktivis perempuan sejak tahun 1990-an menjadi modal dasar.

Dukungan jejaring aktivis ini juga salah satu yang membuat Nurul kuat di dunia politik. Selain itu, beasiswa diperoleh dari Ford Foundation untuk studi jender dan seksualitas pada 1999. Tahun berikutnya, Nurul menjalani kuliah ekstensi sampai menyelesaikan jenjang sarjana dan master bidang politiknya.

Selain itu, tak segan-segan, Nurul mengatakan, suaminya – Mayong Suryolaksono – sangat mendukung kiprahnya. Setiap hari, Mayong menyodorkan artikel yang dinilai wajib dibaca. Nurul pun menyadari, tak ada desain menjadi politisi di awalnya.

Namun, semua mengalir dengan positif karena dia berada di lingkungan yang mendorongnya untuk berkembang. Hal ini juga diperlukan artis-artis yang berminat terjun ke dunia politik.

“Kapasitas harus ditingkatkan, bisa dengan mencari lingkungan yang kondusif untuk membantu berpikir secara konstruktif,” tuturnya. Kini, Nurul bersiap bertarung kembali di Pemilu 2014 melalui daerah pemilihan di Jawa Barat. (kompas)

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

*