SUARA    GOLKAR    SUARA    RAKYAT                                                SUARA    GOLKAR    SUARA    RAKYAT

Raker Baleg Mendengar Laporan Kunker tentang Pengendalian Dampak Produk Tembakau Terhadap Kesehatan

NurulArifin.Com – Kamis, (24/02), Badan Legislasi DPR RI melakukan Rapat Kerja untuk Mendengar Laporan Tiga rombongan kunjungan Kerja Dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan NTB untuk membahas  untuk RUU tentang Pengendalian Dampak Produk Tembakau Terhadap Kesehatan.

Laporan pertama adalah laporan rombongan dari Jawa Tengah. Menurut mereka, rakyat di Jateng mengharapkan agar RUU ini mencerminkan nasionalisme ekonomi. Jangan sampai kita menjadi importir tembakau yang justru menyebabkan tembakau petani kita tidak bisa dijual atau malah dibeli dengan harga murah. Dalam kaitannya dengan rokok, mereka menginginkan agar peringatan dalam bungkusan rokok diperbesar lagi. Namun Pemerintah Daerah  Temanggung keberatannya sekitar 98% terhadap RUU ini. Mereka menolak secara serius RUU ini karena akan mengganggu produktivitas dan menurunkan pendapatan masyarakat jika diberlakukan. “tembakau tidak perlu diatur” begitulah laporan tim yang menirukan ucapan penduduk. Sementara Universitas Gajah Mada (UGM) terbelah menjadi dua, yakni: Fakultas Kedokteran menyambut baik RUU karena bagi mereka akan memberikan harapan hidup bagi masyarakat. Sementara Fakultas Ekonomi berpandangan yang bertolak belakang dengan FK UGM. Mereka menengarai, bahwa pengaturan RUU ini merupakan skenario kapitalisme.

Kesempatan kedua adalah laporan Tim Kunker dari Jawa Timur, mereka mengatakan bahwa Supporting cukai secara nasional sekitar 7% dari Tembakau. Para petani Tembakau di Jawa Timur cukup besar, dan kehidupan masyarakat Jatim masih bergantung pada tembakau khususnya Madura. Menurut mereka, antara tembakau dengan kesehatan akan berbeda sampai kapanpun. Memisahkan ruang public bagi perokok dan bukan perokok. “Merokok tetap mati, tidak merokok pun akan tetap mati. Karena kami akan tetap merokok”. Begitulah ucapan warga yang ditirukan oleh Tim Kunker dari jawa Timur. Menurut mereka, RUU ini mematikkan petani. Karena itu, pembatan RUU harus melihat keberpihakan kita ada dimana, apakah Petani atau  bukan.

Sementara tim dari NTB memberikan laporan yang hamper sama dengan kedua tim diatas, bahwa memang persentase penolakan terhadap RUU ini besar. Kampus Universitas Mataram member respons bahwa Tembakau ini harus ada pengendalian. Yang dikendalikan bukan petani tembakau atau tembakaunya, namun yang dikendalikan adalah industri rokoknya. Mereka juga memberikan judul terhadap RUU ini agar diubah, yakni: Pengelolaan Dampak Merokok terhadap kesehatan.

Pertanyaan Pemerintah Daerah terkait RUU ini adalah jika tembakau nanti  diatur dalam RUU, maka pendapatan daerah dari mana, karena salah satu pendapatan daerah NTB yang paling besar adalah dari tembakau. Mereka menampung 680 orang pekerja dalam 1 bulan dan bisa menghasilkan 50ribu Ton pertahun. Mereka mensuplai sampai Jawa Timur dan Jawa Tengah. Disana ada 18 perusahaan. Jadi kalau diatur, apa kompensasinya bagi daerah? Tembakau yang terbaik di Indonesia adalah di NTB.

Menurut Nurul Arifin, RUU ini harus dibagi dua, yakni: (1) RUU Dampak Rokok dan (2)  RUU Produk Tembakau.  Dari masalah tembakau ini dikenal ada filosofi tiga M dari Petani Tembakau: Makah-Madinah. Mobil-Motor, Merrit-Money. (Fajlurrahman Jurdi, SH)

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

*