SUARA    GOLKAR    SUARA    RAKYAT                                                SUARA    GOLKAR    SUARA    RAKYAT

Slamet Efendi Yusuf yang Membujuk Nurul Arifin Masuk Golkar

Keseriusan Nurul Arifin dalam bekerja di partai dan di luar partai membuahkan keberhasilan. Sejumlah kepercayaan diberikan partai kepadanya. Saat ini, ia menjadi Wakil Sekjen Partai Golkar dan sudah dua periode diberi kepercayaan menjadi calon anggota DPR.

Aktivitasnya di luar partai, justru lebih bagus. Dia bertekat agar mempunyai pengikut atau diakui oleh publik. Bermodal aktivis perempuan, namanya semakin sering disebut, dan menjadi rujukan. “Jadi, saya di kalangan aktivis perempuan itu jadi modal politik di partai. Jadi, mereka welcome, oh Nurul bukan sekadar artis. Selain itu, saya kerja di organisasi, pokoknya serius, mau disuruh apa yah dikerjakan. Apalagi setelah jadi (anggota DPR) 2009. Intinya, do the best thing,” paparnya.

Nurul Arifin adalah perempuan artis dengan segudang prestasi. Ia mendapat predikat artis terlaris 1989, terpilih sebagai wakil Indonesia oleh Ford Foundation dalam Asia-Pacific Festival Conference of Women in The Art di Filipina dengan tema Changing she images women re-ma(in)ing the world, terpilih sebagai salah satu perempuan berkualitas untuk kandidat anggota Legislatif versi LSM Cetro tahun 2004. Nurul membintangi setidaknya 33 film antara lain Naga Bonar (1986), Lupus (1987), Pacar Ketinggalan Kereta (1988), Surat untuk Bidadari (1991) dan lain-lain. Juga membintangi sinema elektronik (Sinetron) seperti Reaksi, Abad 21, Kupu Kupu Ungu, Sajadah Panjang dan Jangan Ada Dusta.

Nurul mengaku memilih masuk ke Partai Golkar pada 2003 setelah mendapat tawaran dari beberapa partai politik lainnya. Waktu itu, Nurul mengaku diajak masuk ke Golkar oleh Slamet Efendi Yusuf. “Waktu itu butuh waktu sebulan untuk memutuskan partai mana yang saya akan terima, karena saat itu yang mengajak ada empat partai,” tutur Nurul. Ia pun sempat berkonsultasi dengan suami, Mayong Suryolaksono, wartawan Intisari-produk Kompas Gramedia. Ia pun memintai pendapat teman-teman aktifis perempuan sebelum memutuskan terjun ke dunia politik, memilih Partai Golkar.

Alasannya memilih Golkar sebagai kendaraan politiknya, karena partai berlambang Pohon Beringin itu bisa mengakomodir apa yang menjadi agenda politiknya, yakni politik perempuan. “Jadi, saya masuk sudah dengan mainstream, jadi bukan cek kosong,” tandasnya. Partainya memperlakukannya sama dengan kader lainnya kendati dia terbilang orang populer. Bahkan, ia juga ditempa sejumlah pelatihan umum tentang kepartaian. Namun, ia justru mendapat pembelajaran politik setelah terjun langsung menjadi politisi. “Di partai tidak ada istilah digojlok. Tapi, kami di Golkar ikut training-training perempuan. Itu lebih pada substansi organisasi, marketing politik, branding, strategi kampanye, visi dan misi partai, itu yang dijejalkan partai,” ujarnya.

“Jadi, how to be a politician itu tidak diajarkan. Itu sangat personal, itu learning by doing. Jadi, kalau mau jadi politisi, hanya mainstreamnya yang diisi oleh partai, tapi perilakunya tergantung orang itu sendiri mempresentasikan seperti politisi pada seharusnya,” tambahnya. (tribunnews).

Tags: 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

*